Dari Balik Jeruji, Harapan Tumbuh: Puang Dirham Kenang Lapas Nunukan sebagai Ruang Perubahan

Buku “SAE LANUKA”, Gagasan Pembinaan Humanis dari Lapas Nunukan

NUNUKAN — Bagi Puang Dirham, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Nunukan bukan sekadar tempat menjalankan tugas, melainkan ruang belajar tentang kemanusiaan, harapan, dan perubahan.

Kini menjabat sebagai Kepala Lapas Narkotika Samarinda, Puang Dirham mengenang masa pengabdiannya di Nunukan dengan penuh rasa syukur. Ia menyebut, suasana kondusif dan sikap kooperatif warga binaan menjadi kekuatan utama dalam membangun berbagai program pembinaan.

Serah terima jabatan (sertijab) Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIB Nunukan berlangsung di Aula Lapas Nunukan, Kamis (23/04/2026). Jabatan resmi diserahkan dari Puang Dirham kepada Donny Setiawan.

“Terima kasih untuk Lapas Nunukan yang luar biasa. Saya banyak belajar di sini, terutama dari warga binaan. Suasananya penuh kebersamaan dan kebaikan,” ujarnya.

Menurutnya, warga binaan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Nunukan secara keseluruhan. Apa yang terlihat di dalam lapas, kata dia, merupakan cerminan dari karakter masyarakat yang memiliki potensi positif.

“Di sini kita melihat bahwa mereka punya semangat untuk berubah. Dari situ lahir berbagai inovasi, mulai dari kolam renang, peternakan ayam petelur, hingga fasilitas sederhana seperti papan catur,” jelasnya.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Puang Dirham menggagas konsep “SAE LANUKA: Dari Balik Jeruji Menuju Cahaya Perubahan, Merajut Asa Menjadi Tempat Wisata”. Konsep ini tidak hanya berfokus pada pembinaan, tetapi juga membuka peluang lapas sebagai ruang edukasi dan pemberdayaan yang bisa dirasakan masyarakat luas.

Gagasan itu bahkan telah dituangkan dalam sebuah buku yang disusun bersama tim kehumasan dan rekan jurnalis, sebagai bentuk dokumentasi sekaligus arah pengembangan ke depan.

“Alhamdulillah, apa yang kami rencanakan bersama bisa mulai terwujud,” katanya.

Ia menegaskan, capaian tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, instansi terkait, hingga insan pers yang aktif menyuarakan program-program pembinaan di Lapas Nunukan.

“Peran media sangat besar dalam menyampaikan sisi positif pemasyarakatan kepada publik,” tambahnya.

Meski demikian, Puang Dirham menyadari perjalanan masih panjang. Ia menyebut pengembangan program, khususnya yang mengarah pada kawasan wisata berbasis pembinaan, membutuhkan komitmen dan kerja bersama yang berkelanjutan.

“Masih banyak yang perlu dilanjutkan dan disempurnakan. Ini menjadi tanggung jawab bersama ke depan,” tutupnya.

Bagi Puang Dirham, Lapas Nunukan telah membuktikan bahwa di balik jeruji, selalu ada ruang untuk tumbuh—ruang bagi harapan untuk kembali dirajut, dan masa depan untuk diperbaiki.(*)