TARAKAN — Kamis, 3 September 2026, sekitar pukul 13.00 WITA.
Dari tepi Jalan Aki Balak, tak jauh dari runway Bandara Juwata Tarakan, sebuah pesawat berwarna kuning bersiap tinggal landas.
Suara mesinnya meninggi. Pesawat bergerak menuju ujung landasan. Beberapa detik kemudian, roda terangkat dari aspal dan tubuhnya menanjak ke langit.
Namun, belum jauh meninggalkan landasan, pesawat itu seperti ditelan langit.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggantung di udara. Tubuh pesawat perlahan menghilang di balik warna putih kelabu.
Saya mengangkat telepon genggam dan mengabadikan momen itu.
Awalnya, saya hanya melihat sebuah pesawat yang sedang terbang. Tetapi setelah mengetahui apa yang dibawanya, foto itu memiliki cerita yang jauh lebih besar.
Pesawat tersebut membawa bahan bakar minyak (BBM) menuju Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Pesawat tersebut membawa bahan bakar minyak (BBM) menuju Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Krayan merupakan salah satu wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) di Kalimantan Utara. Letaknya yang berada di kawasan perbatasan dan jauh dari pusat distribusi membuat pemenuhan kebutuhan energi di wilayah ini menghadapi tantangan tersendiri.
Di wilayah perbatasan yang berada jauh di pedalaman itu, BBM bukan sekadar kebutuhan kendaraan. Ia menopang mobilitas, aktivitas ekonomi, hingga kebutuhan listrik masyarakat.
Pertanyaannya, mengapa BBM harus diterbangkan?
Jawabannya membawa saya menelusuri perjalanan energi dari Tarakan menuju Krayan—sebuah perjalanan yang ternyata tidak hanya bergantung pada pesawat, tetapi juga pada kondisi jalan, cuaca, jarak pandang, dan keselamatan.
Dari Tarakan, BBM Menembus Langit
Untuk memahami perjalanan itu, saya menghubungi Nabilla Inanbarika Hartyana, Sales Branch Manager (SBM) Rayon V Kalimantan Utara, Jumat (04/09/2026).

Dari penjelasannya, pesawat yang saya lihat siang itu merupakan bagian dari sistem distribusi BBM dengan moda transportasi udara.
Kondisi geografis Kalimantan Utara membuat distribusi BBM tidak dapat mengandalkan satu moda transportasi.
“Hampir 70 persen distribusinya menggunakan multimoda,” ujar Nabilla.
BBM dapat bergerak menggunakan kapal, mobil tangki, longboat, hingga pesawat.
Salah satu pesawat yang digunakan adalah Air Tractor. Pesawat kecil bermesin tunggal ini menjadi bagian penting dalam distribusi BBM melalui jalur udara menuju Krayan.
Untuk Krayan, jalur udara menjadi salah satu solusi.
Perjalanan dimulai dari Fuel Terminal Tarakan. BBM kemudian di-loading ke pesawat jenis Air Tractor untuk diterbangkan menuju Bandara Yuvai Semaring di Long Bawan, Krayan. Waktu tempuh penerbangan hampir 60 menit.
Tetapi roda pesawat yang menyentuh landasan Long Bawan bukanlah akhir perjalanan.
BBM masih harus dibawa melalui jalur darat menuju SPBU yang melayani masyarakat di berbagai wilayah Krayan.
Artinya, perjalanan energi ke perbatasan memiliki dua wajah: menembus langit, kemudian menaklukkan jalan.
Mengapa Harus Pesawat?
Ada alasan mengapa jalur udara digunakan.
Jalur darat dari Kabupaten Malinau menuju wilayah dataran tinggi Krayan, berdasarkan data Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Utara, mencapai sekitar 220 kilometer, dengan waktu perjalanan sekitar dua hingga empat hari, tergantung cuaca dan kondisi medan.
Ketika jalan berlumpur dan licin, waktu tempuh dapat menjadi lebih panjang. Dalam kondisi tertentu, perjalanan bisa mencapai sekitar enam hari. Bahkan, jika akses jalan mengalami kelumpuhan total, distribusi dapat tertunda hingga berminggu-minggu.
Kondisi geografis tersebut membuat transportasi udara menjadi salah satu cara untuk menjaga pasokan BBM tetap bergerak menuju wilayah perbatasan.

Sekali terbang, Air Tractor mampu membawa sekitar 4 ton atau 4 kiloliter BBM.
Secara teknis, satu pesawat dapat melakukan maksimal tiga kali penerbangan dalam sehari. Jika seluruh penerbangan dapat dilakukan, kapasitasnya mencapai sekitar 12 ton atau 12 kiloliter per hari.
BBM yang dibawa berupa Pertalite dan Biosolar. Untuk Biosolar, kapasitasnya sekitar 3.800 liter, menyesuaikan karakteristik produk.
Di wilayah Krayan terdapat empat SPBU yang menjadi titik penyaluran BBM, yakni SPBU Krayan Induk, SPBU Krayan Barat, SPBU Krayan Timur, dan SPBU Krayan Selatan. Masing-masing dapat melakukan permintaan satu hingga dua kali dalam seminggu, tergantung kebutuhan dan jadwal penerbangan.
Namun, kemampuan pesawat tidak otomatis menjamin BBM selalu terbang sesuai jadwal.
Ada satu faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh mesin pesawat.
Langit.
Ketika Langit Tertutup Asap
Memasuki awal September, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Utara, kian menebal.
Langit yang memutih menjadi penghalang baru bagi perjalanan BBM menuju wilayah perbatasan.
Di Bandara Long Bawan, jarak pandang menjadi salah satu faktor penting untuk menentukan apakah pesawat dapat mendarat dan melanjutkan penerbangan.
Pada 2 dan 3 September 2026, pengiriman BBM dari Terminal Long Bawan menuju SPBU sempat terganggu selama dua hari.
Kabut asap begitu pekat.
Berdasarkan informasi dari pihak maskapai, jarak pandang saat itu hanya sekitar 500 meter. Pesawat hanya dapat melakukan satu hingga dua kali pengiriman sebelum penerbangan berikutnya tidak dapat dipaksakan.
Bagi Elsa, pengelola SPBU CV Prima Energi di Krayan Induk, kondisi tersebut menjadi bagian dari risiko distribusi BBM melalui jalur udara.
“Keselamatan penerbangan merupakan hal yang tidak dapat dikompromikan,” ujar Elsa, Sabtu (05/09/2026).
Kalimat itu menjadi batas yang jelas.
BBM memang dibutuhkan. Masyarakat menunggu. Namun, keselamatan awak dan penerbangan tidak dapat dipertaruhkan.
Selama dua hari, pasokan yang seharusnya bergerak melalui udara harus menunggu.
Namun, di Krayan, kebutuhan tidak ikut menunggu.
Kendaraan tetap harus berjalan. Pedagang tetap beraktivitas. Warga tetap harus menuju ladang dan kebun.
Bagi mereka, satu liter BBM bukan sekadar bahan bakar, tetapi juga bekal untuk menempuh perjalanan mencari penghidupan.

Pasokan yang Tidak Boleh Terputus
Di tengah kondisi tersebut, upaya Pertamina Patra Niaga mempertahankan penyaluran BBM ke wilayah perbatasan mendapat apresiasi dari Rismanto, anggota Komisi III DPRD Kalimantan Utara.

Menurut Rismanto, distribusi melalui jalur udara merupakan langkah penting untuk menjaga pasokan energi masyarakat Krayan.
“Saya sebagai anggota Komisi III DPRD Kaltara, yang juga menjadi mitra Pertamina, sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Pertamina Patra Niaga,” ujarnya, Senin (07/09/2026)
Ia menilai, meskipun menghadapi tantangan kabut asap dampak dari karhutla yang mengganggu penerbangan, penyaluran BBM ke Krayan tetap diupayakan menggunakan Air Tractor.
Rismanto berharap distribusi tersebut terus dilanjutkan dan volumenya dapat ditingkatkan.
Terlebih, menurutnya, masyarakat Krayan semakin menghadapi kesulitan memperoleh pasokan BBM dari Malaysia, termasuk akibat tingginya nilai tukar ringgit.
Karena itu, distribusi BBM melalui jalur udara tidak hanya menjaga ketersediaan energi, tetapi juga membantu masyarakat perbatasan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
Setelah dua hari tikdal optimal, pada 4 September 2026, penerbangan mulai kembali normal.
Pesawat kembali terbang ketika kondisi dinilai aman.
Tidak ada ruang untuk memaksakan penerbangan.
Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar mengirim BBM sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan bahan bakar sampai dengan selamat.
Di Balik Satu Liter BBM
Jika bagi pengelola distribusi persoalannya adalah bagaimana BBM dapat sampai, bagi masyarakat persoalannya jauh lebih sederhana:
bagaimana mereka bisa tetap menjalani kehidupan ketika BBM sulit didapat?
Pertanyaan itu terjawab dari cerita Rosmiri, warga Krayan Selatan yang sehari-hari berjualan sembako, Selasa (08/09/2026).
Bagi Rosmiri, kendaraan bukan sekadar alat transportasi.
Kendaraan digunakan untuk mengambil kebutuhan sembako di Krayan Induk dan Bandara Long Bawan, bepergian antardesa, hingga menuju ladang dan sawah.
Namun, perjalanan dari Krayan Selatan menuju Krayan Induk bukan perkara mudah. Kondisi medan membuat warga harus mengandalkan jasa ojek.
Rosmiri mengaku, untuk perjalanan tersebut, ia harus membayar Rp700 ribu untuk satu sepeda motor.
“Ojek dari Krayan Selatan ke Krayan Induk, satu motor saya bayar Rp700 ribu, Pak,” kata Rosmiri.

Biaya perjalanan yang tinggi itu menunjukkan betapa pentingnya kendaraan dan ketersediaan BBM bagi mobilitas masyarakat.
Ketika pasokan BBM dari Pertamina tersedia, harga Pertalite sekitar Rp10 ribu per liter. Namun, ketika harus membeli dari pengecer, harganya dapat mencapai Rp20 ribu per liter.
“Kalau BBM yang masuk dari Pertamina ada, harganya sekitar Rp10 ribu per liter untuk jenis Pertalite. Tetapi kalau membeli dari pengecer atau warga, harganya bisa mencapai Rp20 ribu per liter,” ungkapnya.
Selisih harga itu terasa berat bagi masyarakat yang mobilitasnya sangat bergantung pada kendaraan.
Untuk menuju kebun, perjalanan dengan sepeda motor bisa memakan waktu sekitar 30 menit hingga satu jam. Jika berjalan kaki, waktunya bisa mencapai satu hingga dua jam.
“Kalau tidak ada minyak, tentu sangat menyulitkan. Untuk ke kebun saja kalau naik motor bisa sekitar 30 menit lebih. Kalau jalan kaki bisa satu sampai dua jam,” ungkapnya.
Ucapan itu menggambarkan betapa pentingnya ketersediaan BBM bagi mobilitas masyarakat Krayan.
Di tengah berbagai kendala tersebut, Rosmiri berharap distribusi BBM ke wilayah Krayan Selatan dapat berjalan lebih lancar dan konsisten.
Kini, kondisi akses jalan mulai membaik. Harapannya, perbaikan tersebut diikuti dengan distribusi BBM yang lebih rutin.
“Sekarang jalan sudah bagus. Harapannya dari pihak SPBU rutin mengantarkan minyak, satu minggu dua kali. Kalau bisa, jatah dua ton per dua minggu juga terpenuhi,” kata Rosmiri.
Harapan itu terdengar sederhana. Namun, bagi masyarakat di wilayah yang aksesnya tidak selalu mudah, kepastian pasokan adalah bagian dari kepastian hidup sehari-hari.
Bukan hanya untuk kendaraan, tetapi juga untuk menunjang aktivitas warga menuju kebun dan sawah, mengambil kebutuhan sembako, hingga menjalankan kegiatan ekonomi.
Bagi Rosmiri, keberadaan SPBU dan PLN juga sangat membantu masyarakat Krayan Selatan.
“Dengan adanya SPBU dan PLN, masyarakat Krayan Selatan sangat terbantu,” ungkapnya.
Namun, ketika pasokan BBM berkurang, dampaknya tidak berhenti pada mobilitas.
Ada hal lain yang lebih penting: listrik.
Rosmiri mengungkapkan, ketika pasokan bahan bakar terbatas, dalam kondisi tertentu listrik hanya menyala sekitar pukul 18.00 hingga 22.00 WITA. Padahal sebelumnya masyarakat dapat menikmati listrik hingga sekitar pukul 06.00 pagi.
“Kalau BBM kurang, PLN juga ikut terkendala. Biasanya listrik hanya menyala dari sekitar jam enam sore sampai jam sepuluh malam. Padahal sebelumnya bisa sampai jam enam pagi,” ungkapnya.
Di titik ini, perjalanan BBM yang semula terlihat sebagai urusan logistik berubah menjadi cerita tentang kehidupan.
Satu liter bahan bakar dapat berarti satu perjalanan ke kebun.
Satu perjalanan dapat berarti barang dagangan sampai ke rumah.
Dan pasokan yang cukup dapat berarti listrik tetap menyala lebih lama.
Langit yang Menjadi Jalan
Kini saya kembali pada foto yang saya ambil dari tepi Jalan Aki Balak.
Sebuah pesawat kuning.
Sebuah landasan.
Dan langit yang perlahan ditelan kabut asap.
Saat itu saya hanya melihat sebuah pesawat meninggalkan Tarakan. Kini saya tahu, yang terbang bersama pesawat itu bukan sekadar BBM. Ada kendaraan yang harus tetap bergerak, pedagang yang harus tetap berjualan, warga yang harus menuju kebun, dan listrik yang menunggu bahan bakar agar tetap menyala.
Perjalanan BBM menuju Krayan bukan sekadar tentang seberapa jauh sebuah pesawat dapat terbang. Ini tentang seberapa jauh energi harus diperjuangkan untuk sampai kepada mereka yang membutuhkannya.
Dari Tarakan, BBM menembus langit. Di Long Bawan, ia kembali menyentuh tanah. Dari sana, perjalanan berlanjut melalui jalan yang tidak selalu mudah hingga akhirnya tiba di SPBU dan masyarakat yang menunggu.
Pada akhirnya, perjalanan panjang itu saya maknai dalam tiga hal: tercepat, tepat sasaran, dan tepat guna. Tiga hal yang saya rangkum dalam satu makna: 3T.
Tercepat, karena jalur udara menjadi solusi ketika akses darat menuju Krayan membutuhkan waktu panjang dan menghadapi kondisi medan yang sulit.
Tepat sasaran, karena BBM diterbangkan menuju wilayah Krayan untuk menjaga pasokan energi bagi masyarakat di kawasan perbatasan.
Tepat guna, karena BBM bukan hanya menggerakkan kendaraan, tetapi juga menopang aktivitas ekonomi dan, bagi sebagian masyarakat, menjadi bagian dari energi yang menjaga listrik tetap menyala.
Kabut asap boleh menutup langit. Jalan boleh memanjang. Cuaca boleh berubah. Namun kebutuhan masyarakat tidak ikut berhenti.
TERCEPAT. TEPAT SASARAN. TEPAT GUNA.
ENERGIZING INNOVATION
UNTUK PERBATASAN.

Penulis: Mulyadi Abdilah
















Leave a Reply
View Comments