NUNUKAN – Infrastruktur penghubung masyarakat di Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, kembali terdampak bencana alam. Hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut menyebabkan longsor pada bagian sayap jembatan di Jalan Sinta RT 14, Dusun Berjoko, hingga mengakibatkan bangunan jembatan ambruk dan tidak dapat digunakan lagi.
Peristiwa itu terjadi setelah tingginya debit air sungai menggerus bagian penyangga jembatan. Abrasi yang terus berlangsung membuat konstruksi kehilangan daya dukung hingga akhirnya runtuh.
Kerusakan jembatan tersebut menjadi pukulan bagi masyarakat setempat karena selama ini menjadi akses utama menuju sekolah, kebun, dan berbagai aktivitas sehari-hari. Kini warga terpaksa mencari jalur lain untuk beraktivitas, bahkan sebagian harus menyeberangi sungai.
Camat Sebatik Tengah, Aris Nur, SSTP, bersama pemerintah desa langsung melakukan peninjauan ke lokasi untuk memastikan kondisi lapangan serta dampak yang dialami masyarakat.
“Hasil monitoring menunjukkan jembatan sudah tidak memungkinkan untuk dilalui. Kami meminta masyarakat agar tidak mengambil risiko dengan melintasi area yang rusak karena sangat berbahaya,” ujar Aris Nur.
Menurutnya, keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama sambil menunggu langkah penanganan yang lebih lanjut dari pemerintah daerah.
Dampak kerusakan paling dirasakan oleh para pelajar dan tenaga pendidik yang setiap hari menggunakan jalur tersebut untuk menuju lembaga pendidikan Darul Furqon. Selain itu, warga yang menggantungkan aktivitas ekonomi di sektor perkebunan juga mengalami kendala akibat terputusnya akses transportasi.
Kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Berdasarkan informasi yang dimuat dalam laman SIMP4TIK Kabupaten Nunukan, wilayah Desa Sungai Limau sebelumnya juga pernah mengalami kerusakan akses akibat abrasi sungai yang menyebabkan jembatan menuju sekolah terputus dan menghambat aktivitas masyarakat. Kejadian tersebut menjadi perhatian pemerintah karena akses tersebut merupakan jalur vital bagi warga setempat.
Sebagai langkah cepat, Pemerintah Desa Sungai Limau bersama masyarakat berencana membangun jembatan darurat agar mobilitas warga dapat kembali berjalan, terutama bagi pejalan kaki dan kendaraan roda dua.
Selain itu, koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan telah dilakukan untuk mempercepat penanganan dan mencari solusi pembangunan yang lebih permanen.
Aris Nur berharap sinergi seluruh pihak dapat mempercepat pemulihan akses masyarakat sehingga aktivitas pendidikan, ekonomi, dan sosial warga tidak terganggu dalam waktu yang lama.
“Kami berharap penanganan segera dilakukan. Yang terpenting saat ini adalah memastikan keselamatan warga sekaligus membuka kembali akses yang menjadi kebutuhan utama masyarakat,” pungkasnya.(*)














Leave a Reply
View Comments