Kapolres Nunukan: Jangan Biarkan Sebuah Akun Merusak Persaudaraan yang Telah Lama Terjaga

Kapolres Nunukan Hadiri Apel Akbar TBBR, Ajak Masyarakat Jaga Persatuan.(ist)

NUNUKAN – Sebuah akun di media sosial bisa dibuat dalam hitungan menit. Namun, kepercayaan dan persaudaraan yang telah dibangun masyarakat selama bertahun-tahun tidak boleh runtuh hanya karena satu unggahan yang belum tentu benar.

Pesan itulah yang ingin disampaikan Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni, S.H., S.I.K., M.H., menyusul viralnya akun Facebook yang diduga menyebarkan ujaran kebencian terhadap salah satu suku di Kalimantan Utara.

Di tengah ramainya perbincangan publik, Polres Nunukan memilih bergerak di dua arah sekaligus: memburu pelaku di balik akun tersebut dan menjaga ketenangan masyarakat agar tidak terpecah oleh provokasi.

“Dari hasil penyelidikan sementara, akun Facebook yang digunakan untuk menyebarkan ujaran kebencian terhadap salah satu suku di Kalimantan Utara merupakan akun palsu dengan menggunakan foto milik orang lain,” ujar Ruslaeni saat dikonfirmasi media, Kamis (6/8/2026).

Ia juga membenarkan bahwa akun tersebut menggunakan nomor dari provider luar negeri, sehingga proses pelacakan identitas pelaku memerlukan pendalaman lebih lanjut.

Meski demikian, Ruslaeni memastikan proses penyelidikan terus berjalan. Jajarannya kini fokus mengungkap siapa pihak yang berada di balik akun tersebut agar dapat dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum yang berlaku.

Namun, bagi Kapolres, menjaga situasi tetap kondusif tidak cukup hanya dengan penyelidikan. Ia langsung menginstruksikan seluruh Polsek di wilayah Kabupaten Nunukan untuk hadir di tengah masyarakat, menemui tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen lainnya.

Langkah itu dilakukan untuk mengajak warga tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi serta tidak ikut menyebarkan konten yang dapat memicu perpecahan.

“Saya memerintahkan seluruh Polsek jajaran mendatangi tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta masyarakat agar tidak terpancing isu-isu yang ingin memecah belah. Kami juga terus mengingatkan masyarakat agar tidak ikut menyebarkan berita bohong yang beredar di media sosial,” katanya.

Menurut Ruslaeni, keamanan bukan hanya soal menjaga wilayah tetap tertib, tetapi juga menjaga hubungan baik antarmasyarakat. Apalagi Nunukan selama ini dikenal sebagai daerah perbatasan yang dihuni berbagai suku dan budaya yang hidup berdampingan.

Ia berharap masyarakat tidak memberikan ruang bagi pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan media sosial untuk menebar kebencian.

“Jangan sampai akun anonim yang identitasnya belum jelas justru berhasil memecah persaudaraan yang selama ini kita rawat bersama. Tetap tenang, bijak menerima informasi, dan percayakan proses hukumnya kepada kepolisian,” pesannya.

Polres Nunukan menegaskan bahwa penyelidikan terhadap pelaku akan terus dilakukan. Namun, keberhasilan menjaga kedamaian, menurut Ruslaeni, juga bergantung pada kesadaran masyarakat untuk tidak ikut menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

Di era digital, satu klik dapat menyebarkan informasi ke ribuan orang. Karena itu, memilih berhenti sejenak untuk memeriksa kebenaran sebuah informasi bisa menjadi langkah sederhana yang ikut menjaga persaudaraan di Kabupaten Nunukan. (*)