TARAKAN – Penguatan ekonomi masyarakat pesisir menjadi salah satu upaya mendukung keberlanjutan rehabilitasi mangrove di Kalimantan Utara (Kaltara). Melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), lima kelompok masyarakat di Kabupaten Tana Tidung dan Kabupaten Bulungan menerima bantuan usaha produktif dengan total nilai sekitar Rp534 juta.
Bantuan tersebut disalurkan melalui skema matching grant untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal. Mulai dari pengolahan hasil perikanan, peternakan, hingga budidaya kepiting bakau.
Dukungan diberikan dalam bentuk sarana produksi, peralatan usaha, serta bahan baku yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) sekaligus Executive Director M4CR, Muhammad Zainal Arifin, mengatakan penguatan ekonomi masyarakat merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan rehabilitasi mangrove.
Menurutnya, pemulihan ekosistem pesisir perlu berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
“Upaya pemulihan mangrove harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Melalui dukungan usaha produktif, masyarakat diharapkan memiliki sumber penghidupan yang dapat berkembang, sekaligus tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menjaga ekosistem mangrove di wilayahnya,” ujar Zainal, Senin (02/11/2026).
Adapun lima kelompok penerima bantuan memiliki jenis usaha yang beragam. UMKM Imbaya Bais mengembangkan produk stik tudai berbahan dasar kerang, sedangkan Kelompok Wanita Tani Bepakot memproduksi sambal ikan asap dan bandeng tanpa duri.
Selanjutnya, Kelompok Peternak Perintis menjalankan usaha ayam petelur, KPTN Sejahtera mengembangkan budidaya kepiting bakau, serta UMKM Sukses Bersama memproduksi sambal ebi khas Kalimantan Utara.
Dari lima kelompok penerima tersebut, tiga di antaranya merupakan kelompok perempuan. Keterlibatan perempuan menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan program M4CR, dengan target partisipasi sekurang-kurangnya 30 persen.
PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara, Akhmad Ashar Sarif, menjelaskan dukungan usaha diberikan berdasarkan potensi dan kebutuhan masing-masing kelompok.
“Setiap kelompok memiliki potensi dan tantangan usaha yang berbeda. Karena itu, dukungan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan mereka, baik berupa peralatan maupun bahan pendukung produksi. Harapannya, bantuan ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas usaha dan membuka peluang ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat,” kata Akhmad.
Program M4CR sendiri tidak hanya berfokus pada rehabilitasi fisik mangrove. Program ini juga mendorong penguatan kelembagaan masyarakat melalui Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM), sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
Sejak 2024, sebanyak 111 kelompok masyarakat di empat provinsi prioritas M4CR, yakni Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara, telah menerima dukungan usaha produktif.
Khusus di Kalimantan Utara, tercatat sebanyak 25 kelompok telah mendapatkan bantuan tersebut.
Melalui pendekatan ini, masyarakat pesisir diharapkan tidak hanya terlibat dalam upaya rehabilitasi mangrove, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari pengembangan usaha yang memanfaatkan potensi sumber daya lokal secara berkelanjutan.














Leave a Reply
View Comments