17 Agustus, Jamani Pria Nunukan Ulang Tahunnya Dirayakan Bersama Merah Putih

Duduk Diatas Trotoar, Jamani Bersama Istri dan Anak Menyaksikan Upacara Penurunan Sang Merah Putih. (dv)

NUNUKAN – Sore itu, Jamani (27) duduk di pinggir trotoar bersama istri dan putra kecilnya. Pandangannya tertuju ke halaman Kantor Bupati Nunukan, tempat Upacara Penurunan Sang Merah Putih berlangsung, Senin (17/8/2026).

Sesekali, ia mengangkat telepon genggam. Bukan sekadar merekam suasana, tetapi mengabadikan momen yang baginya memiliki arti lebih dari sekadar peringatan Hari Kemerdekaan.

Di sampingnya, sang istri, Wati, menikmati suasana sore. Sementara Maulana, putra mereka yang baru berusia enam tahun, ikut menyaksikan barisan Paskibraka menjalankan tugas menurunkan bendera Merah Putih.

Bagi Jamani (kaos merah), tanggal 17 Agustus selalu menjadi hari yang istimewa.

Bukan hanya karena Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Pada tanggal yang sama, 27 tahun lalu, ia juga dilahirkan.

“Setiap tanggal 17 Agustus sejak SMP saya selalu menyaksikan upacara bendera. Karena saya juga lahir tanggal 17 Agustus. Jadi bukan hanya merayakan HUT RI, saya merasa ulang tahun saya juga ikut dirayakan,” ujar Jamani, Senin (17/8/2026).

Sejak duduk di bangku SMP, Jamani memiliki kebiasaan menyaksikan upacara setiap 17 Agustus. Kebiasaan itu terus ia bawa hingga dewasa.

Saat bersekolah di SMAN 1 Nunukan hingga lulus pada 2018, ia memang tidak pernah menjadi petugas upacara. Namun, ia aktif dalam organisasi Sispala yang membuatnya terbiasa dengan kegiatan yang menanamkan kedisiplinan dan kebersamaan.

Bagi Jamani, upacara kemerdekaan bukan sekadar barisan pasukan, pengibaran atau penurunan bendera. Ada suasana yang selalu membuatnya ingin hadir, yakni ketika masyarakat berkumpul dalam satu tempat untuk memperingati kemerdekaan.

Dulu, ia lebih sering menyaksikan upacara di Taman Makam Pahlawan karena lokasinya dekat dari rumah.

“Dulu saya menyaksikan di Taman Makam Pahlawan karena dekat dari rumah. Belum punya motor, jadi dari rumah jalan kaki,” kenangnya.

Kini keadaan telah berubah.

Jamani sudah memiliki kendaraan. Pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini, ia memutuskan datang ke halaman Kantor Bupati Nunukan untuk menyaksikan langsung upacara penurunan bendera.

Namun, ada satu hal yang membuat tahun ini terasa jauh lebih istimewa.

Ia tidak datang sendirian.

Untuk pertama kalinya, Jamani membawa Wati dan Maulana.

“Memang sudah saya niatkan untuk datang,” katanya.

Langkah kecil itu seolah menjadi perjalanan waktu bagi Jamani. Dulu, ia adalah seorang anak yang berjalan kaki dari rumah menuju Taman Makam Pahlawan untuk menyaksikan upacara.

Kini, ia datang sebagai seorang ayah, menggandeng keluarganya dan membawa putranya mengenal suasana peringatan kemerdekaan secara langsung.

Wati pun menyambut ajakan suaminya dengan senang hati.

“Senang diajak suami nonton upacara di Kantor Bupati, sekalian juga bisa jalan-jalan,” ujar Wati sambil tersenyum.

Di tengah suasana khidmat tersebut, Maulana menjadi bagian kecil dari sebuah kenangan keluarga.

Bocah yang masih duduk di bangku TK itu duduk bersama ayah dan bundanya, menyaksikan Paskibraka menjalankan tugas hingga prosesi penurunan Sang Merah Putih selesai.

“Saya senang bisa ikut menonton dengan Ayah dan Bunda,” kata Maulana.

Bagi Maulana, sore itu mungkin hanya sebuah perjalanan bersama orang tua. Namun bagi Jamani, momen tersebut memiliki arti yang lebih dalam.

Ia ingin putranya mengenal kemerdekaan bukan hanya melalui buku atau layar televisi, tetapi juga melalui pengalaman melihat langsung masyarakat berkumpul, bendera Merah Putih diturunkan dengan penuh penghormatan, dan para Paskibraka menjalankan tugas dengan disiplin.

Sebab, ada satu bagian dari upacara yang sejak dulu selalu menarik perhatian Jamani.

Paskibraka.

Ia senang memperhatikan bagaimana para anggota Paskibraka menjalankan tugas dengan penuh ketelitian. Baginya, ada kebanggaan tersendiri melihat generasi muda berdiri tegap membawa tugas dalam upacara kemerdekaan.

Selama ini, Jamani memang kerap mengikuti upacara melalui siaran televisi. Namun, pengalaman menyaksikannya secara langsung tetap memiliki kesan tersendiri.

“Saya juga mengikuti upacara yang disiarkan di televisi, tetapi lebih senang kalau melihat langsung seperti ini,” tuturnya.

Sore itu, telepon genggam Jamani kembali terangkat. Ia mengabadikan prosesi yang berlangsung di hadapannya.

Mungkin beberapa tahun lagi, foto dan video itu akan menjadi pengingat sederhana tentang sebuah 17 Agustus.

Tentang seorang ayah yang datang bersama istri dan anaknya. Tentang seorang anak yang sedang belajar mengenal arti kemerdekaan. Dan tentang seorang lelaki yang setiap tahun merayakan dua hal sekaligus: hari lahirnya dan hari lahir sebuah bangsa.

Bagi Jamani, 17 Agustus bukan sekadar tanggal di kalender.

Itu adalah hari yang sejak kecil selalu mengajarkannya untuk mengingat Merah Putih.

Dan tahun ini, ia memilih menularkan kenangan itu kepada putranya.

Agar suatu hari nanti, ketika Maulana dewasa, mungkin ia akan mengingat kembali satu sore ketika masih berusia enam tahun, duduk di pinggir trotoar bersama ayah dan bundanya, menyaksikan Sang Merah Putih diturunkan.

Sebuah kenangan sederhana, tetapi mungkin akan tinggal lama dalam ingatan. (*)