TARAKAN — Jarum bergerak perlahan di antara jemari Diana.
Naik.
Turun.
Menembus kain, menarik benang, lalu kembali lagi.
Di sudut ruang produksi MARCO Handmade di Jalan Imam Bonjol, Markoni, Tarakan Tengah, Diana menyelesaikan bagian akhir pembuatan Singal secara manual.
Selembar kain terbentang di hadapannya. Jarum berpindah dari satu sisi ke sisi lainnya hingga membentuk ikat kepala bermotif khas Kalimantan Utara.
Diana merupakan salah satu sahabat Tuli di MARCO Handmade, UMKM milik Agatha Chelsia Fange.
Pekerjaan itu memberinya keterampilan sekaligus penghasilan. Lebih dari itu, ia mendapat kesempatan untuk bekerja dan mengembangkan kemampuannya.
Dari Sunyi, Menjadi Terampil
Tidak banyak kata yang keluar dari Diana ketika ditanya tentang pekerjaannya. Ia lebih banyak berkomunikasi melalui gerakan tangan sambil menunjukkan kain, bagian yang harus dijahit, hingga Singal yang telah selesai.
Pekerjaan finishing tersebut dilakukan tanpa mesin jahit. Hanya menggunakan jarum, benang, kain dan kedua tangannya.
Satu tusukan, benang ditarik. Kemudian tusukan berikutnya.
Proses itu membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Diana terus belajar menyesuaikan diri dengan pekerjaan hingga mampu menyelesaikan bagian finishing Singal secara mandiri.
Namun kemampuan itu tidak muncul begitu saja. Ada perjalanan yang mempertemukan Diana dengan Chelsia.
Dari SLB, Sebuah Pintu Terbuka
Diana bergabung dengan MARCO Handmade pada 2025, setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Luar Biasa (SLB).
Pertemuan dengan Chelsia, pemilik usaha, sebenarnya telah terjadi jauh sebelum Diana menjadi pekerja di MARCO Handmade.
Chelsia beberapa kali diundang ke SLB untuk memberikan bimbingan dan pelatihan membuat kerajinan kepada para siswa.
Di tengah kegiatan tersebut, Chelsia melihat kemampuan Diana.
Ada keterampilan dasar yang dimiliki Diana dan menurutnya masih dapat dikembangkan.
Saat itu, Chelsia juga sedang membutuhkan tenaga untuk membantu proses produksi di MARCO Handmade.
Dari dua kebutuhan itulah sebuah kesempatan terbuka.
Chelsia memilih tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Ia kemudian memberikan kesempatan kepada lulusan SLB yang belum memiliki pekerjaan, tetapi telah mempunyai kemampuan dasar dan keterampilan yang dapat dikembangkan.
Diana menjadi salah satunya.
“Waktu itu saya juga sedang membutuhkan tenaga kerja. Saya melihat ada lulusan SLB yang sudah memiliki keterampilan dasar dan belum bekerja. Kalau memang punya kemampuan, saya ingin memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkarya,” ujar Chelsia.
Diana pun bergabung.
Bukan karena belas kasihan.
Tetapi karena ada kemampuan yang dilihat dan ada pekerjaan yang bisa dilakukan.

Dari Pandemi, Lahir Sebuah Singal
MARCO Handmade lahir pada Maret 2020, ketika pandemi Covid-19 menghantam hampir seluruh sektor kehidupan.
Saat itu, Chelsia memproduksi alat pelindung diri atau APD.
Ketika kebutuhan APD menurun, ia harus mencari jalan lain.
Pertanyaannya sederhana:
Bagaimana bertahan, sekaligus membuat produk yang membawa identitas daerah?
Jawabannya adalah Singal.
Kain polos dan kain batik kemudian diolah menjadi ikat kepala dengan berbagai motif dan warna.
Motif Tidung, Dayak hingga Bulungan menjadi bagian dari produk yang dibuat.
Chelsia juga melakukan inovasi.
Singal dibuat dalam bentuk siap pakai agar masyarakat tidak lagi harus melipat dan membentuknya secara manual.

MARCO Handmade bahkan pernah memproduksi sekitar 700 Singal per bulan, dengan omzet yang mencapai sekitar Rp80 juta per bulan.
Kini produksi menyesuaikan kondisi pasar.
Sedikitnya sekitar 250 Singal masih diproduksi setiap bulan, dengan harga mulai Rp130 ribu hingga Rp300 ribu per buah, menggunakan bahan mulai dari kain batik biasa hingga kain batik tenun.
Dan di antara ratusan Singal itu, ada tangan Diana yang ikut menyelesaikannya.
Ketika Produk Lokal Mendapat Ruang
Pertumbuhan Singal tidak hanya terjadi di ruang produksi.
Produk itu perlahan mendapat tempat di lingkungan pemerintahan, kegiatan daerah, BUMN hingga masyarakat umum.
Di Tarakan, penggunaan Singal bagi ASN telah diberlakukan sejak Juli 2021. Kemudian penggunaannya semakin meluas.
Bagi MARCO Handmade, semakin banyak Singal digunakan berarti semakin terbuka pula pasar bagi produk mereka.
Peluang itu semakin terasa ketika pemerintah daerah mendorong penggunaan produk dan aksesori lokal khas Kaltara. Dorongan tersebut diperkuat melalui Pergub Kaltara Nomor 21 Tahun 2021 tentang Pedoman Penggunaan Batik Khas Daerah Provinsi Kaltara dan Surat Edaran Gubernur Kaltara Nomor 060/3057/SETDA.VII tentang Imbauan Penggunaan Aksesori Lokal Khas Kaltara.
Ruang bagi produk lokal juga terbuka melalui berbagai pameran yang digelar pemerintah daerah, BUMN, maupun Bank Indonesia.
Bagi MARCO Handmade, setiap pameran menjadi kesempatan untuk membawa Singal keluar dari ruang produksi dan mempertemukannya dengan pasar yang lebih luas.

Salah satunya melalui Karya Kreatif Benuanta (KKB) 2026 yang digelar Bank Indonesia di Kebun Raya Bundayati, Kabupaten Bulungan, Kamis (27/8/2026).
Di tengah beragam produk lokal Kaltara yang dipamerkan, Singal MARCO Handmade hadir membawa identitas budaya sekaligus memperlihatkan karya para perajin di baliknya.

Bagi Bank Indonesia, ruang seperti KKB bukan sekadar tempat memajang produk UMKM.
Di sana, produk lokal diberi kesempatan untuk dikenal, bertemu pasar, membangun jejaring, dan berkembang menjadi usaha yang memberi nilai ekonomi lebih luas.
Namun, perjalanan Singal tidak berhenti di ruang pameran.
Ketika Singal Masuk Ruang Digital
Di tengah perubahan cara masyarakat mengenal dan membeli produk, Chelsia memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan karya MARCO Handmade. Salah satunya melalui akun Instagram @marcohandmadetrk, serta grup WhatsApp yang menjadi ruang untuk menawarkan produk kepada calon konsumen.

Melalui ruang digital, Singal tidak harus menunggu pembeli datang ke tempat produksi. Foto produk, motif, warna, hingga model Singal dapat diperkenalkan melalui layar telepon genggam.
Bagi UMKM seperti MARCO Handmade, media sosial menjadi etalase tambahan. Sederhana, tetapi membuka jalan agar produk lokal Kaltara dapat menjangkau lebih banyak orang.
Dari ruang produksi, Singal berpindah ke ruang digital. Dari layar, ia kembali mencari jalan menuju pasar.
Dari Panggung UMKM ke Arena Olahraga
Dukungan terhadap penggunaan Singal juga datang dari Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Utara, Syamsuddin Arfah, yang juga menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Binaraga Fitness Indonesia (PBFI) Kaltara.
Pada November 2026 mendatang, PBFI Kaltara akan menggelar event body fitness Mr. Benuanta Season 5.

Salah satu kelas dalam ajang tersebut adalah Mr. Benuanta, yang dikhususkan bagi atlet Kalimantan Utara. Seperti tahun-tahun sebelumnya, peserta diwajibkan mengenakan Singal sebagai bagian dari penampilan mereka.
Bagi Syamsuddin, penggunaan Singal di arena olahraga sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan budaya dan kerajinan lokal Kaltara.
“Untuk kelas Mr. Benuanta, peserta wajib mengenakan ikat kepala yaitu Singal, ikat kepala tradisional khas Kaltara. Selain untuk mempromosikan budaya dan kerajinan serta wisata Kaltara, juga sebagai wujud mendukung ekonomi pengrajin Singal dan kain batik atau UMKM di Kaltara tentunya,” ujarnya.
Ajang tersebut juga akan dikemas dengan konsep hiburan dan mendapat dukungan dari berbagai sponsor.
Para atlet nantinya dapat mengenakan Singal dengan beragam warna dan corak. Motif batik yang dipilih juga dapat membawa identitas daerah masing-masing.
“Diharapkan di kelas Mr. Benuanta peserta mampu nantinya tampil dengan mengenakan Singal dengan berbagai macam warna dan corak sesuai selera dan membawa motif batik yang tergambar pada Singal sesuai daerah mereka masing-masing,” tambahnya.
Ketika UMKM Tidak Hanya Bicara Omzet
Di MARCO Handmade, pertumbuhan usaha juga berarti pertumbuhan bagi orang-orang yang bekerja di dalamnya.
Saat ini terdapat tiga karyawan tetap.
Usaha tersebut juga menerima pelajar untuk menjalani program magang.
Salah seorang pekerjanya adalah Nani, yang bergabung sejak 2023.

Bagi Nani, pekerjaan tersebut bukan hanya tempat memperoleh keterampilan membuat Singal.
Tetapi juga menjadi tambahan penghasilan untuk keluarga.
“Sejak bergabung tahun 2023, pekerjaan ini sangat membantu untuk menambah kebutuhan ekonomi. Selain mendapatkan penghasilan, saya juga bisa belajar membuat Singal dan keterampilan lainnya,” tuturnya.
Cerita Nani dan Diana memperlihatkan sesuatu yang lebih besar.
Bahwa ketika sebuah UMKM tumbuh, manfaatnya tidak berhenti pada pemilik usaha.
Ada pekerja yang mendapatkan penghasilan.
Ada keluarga yang ikut terbantu.
Ada pelajar yang mendapatkan pengalaman.
Dan ada penyandang disabilitas yang mendapatkan kesempatan untuk bekerja.
Usaha tumbuh, orang-orang di dalamnya ikut tumbuh.
Agus Taufik: UMKM Harus Memberi Dampak Lebih Luas
Gambaran itu kemudian menemukan konteks yang lebih luas dalam paparan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Agus Taufik, dalam Pertemuan Media Bank Indonesia beberapa waktu lalu.
Dalam paparan tersebut, UMKM ditempatkan sebagai bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Bank Indonesia mendorong peningkatan kapasitas UMKM melalui digitalisasi, akses pembiayaan, promosi ekspor, penguatan rantai nilai halal dan produksi berkelanjutan agar UMKM dapat naik kelas.
Pengembangan UMKM juga diarahkan pada pertumbuhan berkualitas melalui produk bernilai tambah serta pembangunan inklusif melalui penyerapan tenaga kerja dan penciptaan lapangan pekerjaan.
Apresiasi Bank Indonesia
Kisah Diana dan MARCO Handmade menunjukkan bahwa UMKM tidak hanya berbicara tentang produk dan omzet.
Di dalamnya ada ruang bagi seseorang untuk bekerja, memperoleh penghasilan, sekaligus membangun kepercayaan diri.
Hal inilah yang mendapat perhatian dari Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Utara.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara Agus Taufik mengapresiasi pelaku UMKM yang memberikan kesempatan kerja kepada penyandang disabilitas seperti Diana.
“Saya apresiasi dan senang ada pelaku UMKM yang melibatkan penyandang disabilitas sebagai pekerja. Saya melihat, produksi kerajinan yang dihasilkan UMKM tidak hanya bernilai sebagai sebuah produk, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Yang dilihat bukan keterbatasannya, tetapi kemauannya untuk berkarya,” ujar Agus Taufik kepada penulis, usai acara pertemuan media.
Pernyataan itu memperkuat satu hal: pertumbuhan ekonomi menjadi lebih berarti ketika manfaatnya ikut dirasakan masyarakat dalam mata rantai ekonomi.
Dari Sebuah Singal, Ekonomi Bergerak
Di balik satu Singal yang terjual, ada rangkaian aktivitas ekonomi: bahan baku dibeli, kain diolah, dijahit, dipasarkan hingga sampai ke tangan konsumen. Di setiap tahap, ada orang yang bekerja dan memperoleh penghasilan.
Namun nilai Singal tidak berhenti pada transaksi.
Motif Tidung, Dayak dan Bulungan membawa identitas Kaltara ke ruang yang lebih luas. Ketika dikenakan masyarakat, pegawai, atlet, wisatawan hingga tamu dari luar daerah, Singal tidak hanya menjadi produk kerajinan, tetapi juga membawa cerita tentang daerah asalnya.
Produk MARCO Handmade bahkan pernah dibawa sebagai buah tangan untuk Presiden Joko Widodo saat kunjungan kerja ke Kalimantan Utara.

Momen tersebut turut memperkenalkan Singal kepada khalayak yang lebih luas.
Produk yang sebelumnya lebih banyak dikenal di lingkungan masyarakat lokal mulai dilihat sebagai salah satu cendera mata khas Kalimantan Utara.
Bagi Gubernur Kalimantan Utara, Singal juga menjadi aksesori yang kerap digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
Penggunaan tersebut ikut memperkuat pesan bahwa produk budaya lokal tidak harus menunggu acara seremonial untuk dikenakan.
Singal bisa hadir dalam keseharian.
Dari sebuah kain sederhana, Singal bergerak lebih jauh.
Tetapi semakin jauh sebuah produk berjalan, semakin penting pula untuk mengingat siapa yang mengerjakannya.
Jahitannya tidak bersuara. Namun ia bercerita.
Tentang kemampuan, kesempatan, dan kesetaraan.
Diana mungkin tidak menyampaikan ceritanya melalui suara. Namun dari setiap jahitan yang dikerjakannya, terlihat bagaimana sebuah kesempatan kerja dapat membuka ruang bagi seseorang untuk berkembang.
Dari ruang kecil di Jalan Markoni, Diana ikut mengerjakan Singal yang membawa identitas budaya Kaltara.
Sore mulai turun di Tarakan.
Jarum kembali bergerak. Benang ditarik perlahan.
Diana terus menjahit.
Di tangannya, Singal bukan hanya menjadi produk kerajinan, tetapi bagian dari perjalanan sebuah UMKM yang memberi ruang untuk bekerja dan tumbuh.
Dari tangan Diana, Singal membawa cerita Kaltara.
Dari kesempatan, ekonomi bergerak.

Penulis: Mulyadi Abdilah














Leave a Reply
View Comments