TARAKAN – Api datang ketika lepas tengah hari. Dalam waktu singkat, tempat yang selama ini menjadi rumah bagi puluhan anak asuh Panti Asuhan Tahfidz Yatim dan Dhuafa Ar-Rohimin di Kelurahan Juata Permai, Kecamatan Tarakan Utara, berubah menjadi kepingan bangunan yang menyisakan kepulan asap dan bau hangus.
Kebakaran yang terjadi pada Senin, 13 April 2026 itu bukan sekadar menghanguskan bangunan. Di balik dinding yang terbakar, ada ruang-ruang tempat anak-anak belajar, mengaji, beristirahat dan menjalani hari-hari mereka bersama.
Sebanyak 20 penghuni panti, terdiri dari enam pengurus dan 14 anak asuh, harus menghadapi kenyataan baru. Salah seorang santri, Yogi Aplian Irfansyah, 15 tahun, bahkan mengalami luka akibat pecahan kaca saat musibah tersebut terjadi.
Sejak saat itu, kehidupan di panti berubah.
Kebutuhan yang sebelumnya tersedia, mendadak menjadi sesuatu yang harus kembali dikumpulkan satu per satu. Tempat tinggal harus dibenahi, fasilitas yang rusak harus diganti, sementara kebutuhan makan dan aktivitas anak-anak tetap berjalan setiap hari.
Namun, di tengah puing-puing musibah, perlahan muncul sesuatu yang lain.
Kepedulian.
Satu per satu tangan datang membantu. Relawan, donatur, masyarakat, hingga pemerintah ikut memberi dukungan. Ada yang membawa kebutuhan pokok, membantu memperbaiki bangunan, memberikan perlengkapan, hingga sekadar datang untuk memastikan anak-anak panti tidak merasa sendirian.
Bagi mereka, bantuan mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi anak-anak Ar-Rohimin, perhatian itu memiliki arti yang jauh lebih besar.
Mereka seperti kembali diyakinkan bahwa rumah yang terbakar tidak berarti harapan ikut padam.
Ketika Bantuan Datang Bersama Harapan
Kepedulian itu kembali terasa ketika suasana Idul Adha 1447 Hijriah tiba.
Sabtu, 30 Mei 2026, rombongan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tarakan datang ke Panti Asuhan Tahfidz Yatim dan Dhuafa Ar-Rohimin.
Bukan sekadar membawa paket bantuan, kedatangan mereka menjadi bagian dari upaya menyambung kembali rasa kebersamaan setelah musibah.
Manager Fuel Terminal Tarakan PT Pertamina Patra Niaga, Hario Somapangestu, datang bersama rombongan untuk melihat langsung kondisi panti sekaligus bersilaturahmi dengan pengurus dan anak-anak.
Pertamina membawa bantuan sembako dan daging kurban.

Bagi anak-anak panti, kehadiran orang-orang dari luar bukan hanya soal apa yang ada di dalam paket bantuan. Ada pesan yang lebih dalam: masih ada yang peduli.
“Kami mendengar informasi bahwa belum lama ini panti asuhan ini mengalami musibah kebakaran, sehingga kami ingin melihat secara langsung bagaimana kondisi dan kehidupan anak-anak di sini saat ini,” ujar Hario.
Pertamina berharap bantuan tersebut dapat meringankan kebutuhan sehari-hari para penghuni panti yang masih menjalani proses pemulihan.
Dalam suasana Idul Adha, daging kurban yang dibagikan menjadi simbol kebersamaan. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, anak-anak kembali merasakan suasana hari raya bersama mereka yang datang membawa perhatian.
Hario mengatakan kepedulian tersebut juga menjadi bagian dari silaturahmi dan berbagi dengan masyarakat.
“Kami memiliki sedikit rezeki yang mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi anak-anak dan pengurus panti,” katanya.
Tidak Hanya Sembako
Bantuan yang datang setelah kebakaran tidak berhenti pada kebutuhan materi.
Bagi pengelola panti, perhatian dari berbagai pihak juga menjadi kekuatan untuk terus bertahan.
Ustad Sumarlin, pengelola Panti Asuhan Ar-Rohimin, mengaku bersyukur atas kepedulian yang diberikan Pertamina.
“Kami sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PT Pertamina yang telah berkenan datang bersilaturahmi, memberikan bantuan sembako, serta berbagi daging kurban kepada anak-anak kami,” ujarnya.
Bantuan itu, kata dia, sangat berarti di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung.
Tetapi ada hal yang tidak kalah penting dari bantuan tersebut.
Anak-anak merasa diperhatikan.

“Kehadiran mereka menjadi penyemangat bagi kami untuk terus bangkit. Anak-anak merasa diperhatikan dan tidak sendiri menghadapi kondisi ini,” tutur Sumarlin.
Kalimat itu mungkin sederhana. Namun bagi anak-anak yang baru saja kehilangan sebagian tempat yang mereka sebut rumah, perhatian memiliki arti yang panjang.
Sebab membangun kembali sebuah bangunan mungkin membutuhkan material dan biaya.
Tetapi membangun kembali semangat setelah sebuah musibah membutuhkan kepedulian dan kebersamaan.
Pemerintah Ikut Menguatkan
Kepedulian tersebut juga mendapat dukungan dari pemerintah di tingkat wilayah.
Camat Tarakan Utara, Sisca Maya Crenata, S.STP, mengapresiasi kehadiran Pertamina dan berbagai elemen masyarakat yang memberikan perhatian kepada Panti Asuhan Ar-Rohimin.
Menurutnya, kehadiran dunia usaha di tengah masyarakat, terutama setelah musibah, menunjukkan bahwa persoalan sosial tidak harus ditanggung sendirian.
“Kami sangat mengapresiasi kepedulian dan perhatian BUMN. Bantuan ini tentu sangat berarti bagi anak-anak dan pengurus panti, terlebih mereka masih dalam proses pemulihan pascamusibah kebakaran,” ujar Sisca.
Bagi pemerintah, kolaborasi seperti ini penting.
Sebab di satu sisi ada panti yang membutuhkan dukungan. Di sisi lain terdapat perusahaan, masyarakat, relawan dan para dermawan yang memiliki kemampuan untuk membantu.
Ketika keduanya dipertemukan, bantuan tidak lagi sekadar menjadi pemberian.
Ia berubah menjadi gerakan bersama untuk memulihkan kehidupan.
Sisca berharap kepedulian terhadap Ar-Rohimin terus tumbuh sehingga proses pemulihan dapat berjalan dengan baik dan kebutuhan anak-anak tetap terpenuhi.
“Kami berharap semangat berbagi seperti ini terus berlanjut,” katanya.
Dari Musibah Menjadi Gerakan Kebaikan
Kebakaran 13 April 2026 meninggalkan luka bagi penghuni Panti Asuhan Ar-Rohimin.
Namun dari peristiwa itu pula muncul cerita lain yang tak kalah penting: tentang orang-orang yang memilih datang ketika sebagian lainnya mungkin hanya melihat dari kejauhan.
Ada relawan yang membantu.
Ada masyarakat yang menyumbangkan apa yang mereka punya.
Ada para dermawan yang ikut meringankan kebutuhan.
Ada pemerintah yang memberikan dukungan.
Dan ada perusahaan seperti Pertamina yang hadir membawa bantuan sekaligus menyampaikan pesan bahwa anak-anak panti tidak berjalan sendirian.
Bagi Ar-Rohimin, proses untuk kembali pulih mungkin belum selesai.
Masih ada bagian bangunan yang harus diperbaiki. Masih ada fasilitas yang harus dilengkapi. Masih ada kebutuhan anak-anak yang harus dipenuhi setiap hari.
Tetapi kini, di antara sisa-sisa musibah itu, tumbuh keyakinan baru.
Bahwa ketika sebuah tempat kehilangan banyak hal karena api, masyarakat dapat menyalakan kembali harapan melalui kepedulian.
Idul Adha akhirnya tidak hanya hadir melalui hewan kurban dan daging yang dibagikan.
Ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: seseorang datang, mengetuk pintu, duduk bersama, bertanya tentang keadaan, lalu memberikan apa yang mampu diberikan.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah kunjungan.
Namun bagi anak-anak Ar-Rohimin yang sedang belajar bangkit dari musibah, kedatangan itu adalah tanda bahwa mereka masih memiliki keluarga besar bernama kepedulian.
Dan dari situlah, perlahan, rumah itu kembali dibangun.
Bukan hanya dengan semen, kayu dan material bangunan.
Tetapi juga dengan doa, gotong royong, dan tangan-tangan yang memilih untuk membantu. (*ma)














Leave a Reply
View Comments