TARAKAN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara menilai perekonomian Kaltara masih menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan geopolitik internasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik, menyebut pertumbuhan ekonomi Kaltara pada triwulan I 2026 mencapai 5,23 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Menurutnya, capaian tersebut ditopang oleh sektor konstruksi dan perdagangan yang terus tumbuh, serta meningkatnya investasi dan aktivitas ekspor daerah.
“Ekonomi Kalimantan Utara tetap tumbuh tinggi dan memiliki potensi berkembang lebih besar ke depan, terutama sejalan dengan hilirisasi industri aluminium dan penguatan sektor pangan,” ujarnya kepada Media, Senin (11/05/2026).
Ia menjelaskan, Bank Indonesia terus mengoptimalkan kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas nilai rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Dari sisi inflasi, BI mencatat inflasi Kaltara pada April 2026 masih terkendali di level 2,68 persen (yoy) atau tetap berada dalam sasaran nasional.
Kenaikan harga tomat, bawang merah, dan tarif angkutan udara menjadi faktor pendorong inflasi. Namun, kondisi tersebut masih tertahan oleh turunnya harga sejumlah komoditas seperti cabai rawit dan daging ayam ras.
“Sinergi pengendalian inflasi terus diperkuat bersama TPID melalui strategi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif,” katanya.
BI juga menyoroti perkembangan pesat sistem pembayaran digital di Kalimantan Utara. Penggunaan QRIS disebut mengalami pertumbuhan signifikan baik dari sisi pengguna, merchant, maupun nilai transaksi.
Hingga 2025, jumlah merchant QRIS di Kaltara tercatat mencapai sekitar 112 ribu merchant, sedangkan pengguna QRIS mencapai 131 ribu orang.
Sementara volume transaksi QRIS menembus 21,5 juta transaksi dengan nominal transaksi mencapai Rp2,4 triliun.
“Digitalisasi pembayaran terus tumbuh dan menjadi bagian penting dalam mendukung ekonomi masyarakat, termasuk sektor UMKM,” ungkap Hasiando.
Sebagai bentuk perluasan digitalisasi, BI bersama pemerintah daerah juga mengembangkan program Pelabuhan SIAP QRIS di sejumlah pelabuhan speedboat di Kaltara.
Saat ini, implementasi pembayaran digital telah tersedia di Pelabuhan Tengkayu I Tarakan dan Pelabuhan Kayan II Bulungan, serta akan terus diperluas ke wilayah lainnya.
Selain itu, kinerja intermediasi perbankan Kaltara juga dinilai tetap solid. Pertumbuhan kredit pada triwulan I 2026 tercatat mencapai 75,88 persen dengan kualitas kredit yang tetap sehat.
Bank Indonesia juga terus memperkuat pemberdayaan UMKM melalui onboarding digital, business matching ekspor dan pembiayaan, penguatan rantai halal, hingga pengembangan pertanian digital berkelanjutan.
“Bank Indonesia berkomitmen mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Utara,” tutupnya. (*)














Leave a Reply
View Comments