Pengukuhan Guru Besar UBT, Prof. Nur Utomo Gaungkan Inklusi Keuangan Berkeadilan

Rektor UBT Prof. Yahya Ahmad Zein mengukuhkan Prof. Nur Utomo sebagai Guru Besar di Aula Rektorat UBT Tarakan, Selasa (29/4/2026).(ist)

TARAKAN – Universitas Borneo Tarakan (UBT) kembali menorehkan sejarah akademik dengan mengukuhkan Prof. Dr. E. Mohamad Nur Utomo, S.E., M.Si. sebagai Guru Besar bidang Ilmu Ekonomi – Manajemen Keuangan, Selasa (29/4/2026), di Aula Lantai 4 Gedung Rektorat UBT.

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat dan dihadiri berbagai tokoh penting dari Kalimantan Utara. Tampak hadir kalangan akademisi, perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, Ketua DPRD Kaltara Achmad Djufrie, Wali Kota Tarakan dr. Khairul, Wakil Bupati Nunukan Hermanus, unsur pemerintah kabupaten/kota lainnya, mantan rektor UBT, serta tamu undangan dari berbagai kalangan.

Pengukuhan dilakukan langsung oleh Rektor UBT periode 2024–2028, Prof. Dr. Yahya Ahmad Zein, S.H., M.H. yang menyebut capaian tersebut sebagai momentum penting bagi kemajuan kampus kebanggaan Kalimantan Utara.

“Pengukuhan ini bukan hanya pencapaian pribadi Prof. Nur Utomo, tetapi juga menjadi motivasi besar bagi sivitas akademika UBT untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Yahya dalam sambutannya.

Dengan dikukuhkannya Prof. Nur Utomo, kini UBT memiliki tiga guru besar aktif. Sebelumnya, UBT telah lebih dulu mengukuhkan Prof. Dr. Yahya Ahmad Zein di bidang Hukum Tata Negara serta Prof. Dr.-Ing. Ir. Daud Nawir, ST., MT. di bidang Teknik Sipil Transportasi.

Rektor menegaskan, bertambahnya jumlah profesor merupakan indikator kemajuan akademik yang akan memperkuat daya saing UBT di tingkat nasional.

Dalam orasi ilmiahnya berjudul “Inklusi Keuangan sebagai Pilar Manajemen Keuangan Berkeadilan: Membangun Pembiayaan Industri Kreatif Berbasis Gender dan Kearifan Lokal”, Prof. Nur Utomo menyoroti pentingnya sistem keuangan yang lebih merata dan inklusif.

Menurutnya, perkembangan teknologi finansial seperti pembayaran digital, peer-to-peer lending, dan crowdfunding telah membuka akses keuangan lebih luas. Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

“Masih ada paradoks. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu sejalan dengan pemerataan inklusi keuangan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, kelompok yang paling terdampak adalah pelaku UMKM, perempuan, serta komunitas lokal yang sering mengalami keterbatasan modal usaha.

Prof. Nur Utomo memperkenalkan konsep Inclusive Financial Management, yaitu sistem pengelolaan keuangan yang menempatkan keadilan sosial sebagai tujuan utama.

Konsep tersebut dibangun di atas lima pilar utama:

  1. Akses keuangan inklusif
  2. Sensitivitas gender
  3. Integrasi kearifan lokal
  4. Pemanfaatan teknologi keuangan
  5. Kemitraan strategis pemerintah, lembaga keuangan, akademisi, dan masyarakat

“Manajemen keuangan bukan hanya soal keuntungan, tetapi bagaimana nilai ekonomi bisa terdistribusi secara adil,” ujarnya.

Inspirasi Putra Daerah

Lahir di Tarakan pada 1972, Prof. Nur Utomo dikenal sebagai putra daerah yang meniti pendidikan dari SDN 006 Tarakan, SMPN 1 Tarakan, hingga SMAN 1 Tarakan sebelum melanjutkan studi tinggi dan berkarier sebagai akademisi sejak 2002.

Selama berkiprah di dunia pendidikan tinggi, ia telah menghasilkan puluhan publikasi ilmiah nasional maupun internasional, terutama di bidang UMKM, keuangan, ekonomi kreatif, dan keberlanjutan.

Pengukuhan ini diharapkan menjadi semangat baru bagi generasi muda Kalimantan Utara bahwa putra daerah mampu menembus jenjang akademik tertinggi sekaligus memberi kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. (*)