SURAKARTA – Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menanam pohon tabebuya di Taman Ecotheology Kampung Toleransi, Kelurahan Ketelan, Kamis (2/4). Penanaman tersebut menjadi simbol penguatan nilai toleransi sekaligus upaya menjaga lingkungan agar tetap asri.
Astrid mengatakan, kegiatan itu merupakan kelanjutan dari pengembangan Taman Ecotheology yang sebelumnya telah diresmikan sebagai simbol kota inklusif. Penanaman pohon diharapkan menjadi pengingat pentingnya menjaga keberagaman yang hidup di tengah masyarakat.
“Ini menjadi pengingat bahwa kita hidup di tengah keberagaman yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Ia menegaskan, taman tersebut bukan sekadar ruang terbuka hijau, tetapi juga ruang publik yang menggabungkan nilai lingkungan dan kerukunan antarumat beragama. Warga diharapkan dapat memanfaatkan taman sebagai tempat berinteraksi sekaligus merawat toleransi.
Taman Ecotheology merupakan bagian dari program Kampung Toleransi yang didorong Pemerintah Kota Surakarta. Kawasan ini dibangun dari lahan yang sebelumnya tidak produktif di wilayah RW 02 Kelurahan Ketelan, kemudian diubah menjadi ruang terbuka hijau yang inklusif dan ramah bagi semua kalangan.
Keberadaan taman ini menjadi contoh praktik kolaborasi lintas agama dan masyarakat dalam menjaga harmoni sosial. Warga Ketelan diketahui berasal dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan, namun tetap hidup berdampingan secara damai.
Dalam kesempatan tersebut, Astrid juga menambahkan dua pohon tabebuya untuk memperkuat fungsi taman sebagai ruang yang nyaman dan teduh. Tabebuya dikenal sebagai tanaman hias yang kerap disebut “sakura-nya Indonesia” karena bunganya bermekaran dengan warna cerah seperti pink, kuning, dan putih. Selain mempercantik kota, pohon ini juga memberikan keteduhan serta membantu meningkatkan kualitas udara di kawasan perkotaan.
Astrid berharap, Taman Ecotheology tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar hidup sebagai ruang bersama untuk merawat lingkungan sekaligus memperkuat nilai toleransi.
“Harapannya taman ini bisa dimanfaatkan masyarakat, tidak hanya sebagai simbol, tapi juga sebagai ruang untuk menjaga kebersamaan dalam perbedaan,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Utama Rhythm Therapy Indonesia sekaligus owner Gilang Ramadhan Studio Band Solo (GRSB-Solo), Djoko Santoso, berharap kegiatan tersebut dapat mengedukasi masyarakat tentang kepedulian terhadap kebutuhan dasar Anak-anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
“Kami mempunyai tagline Membimbing dengan Hati yang maknanya menekankan aspek kepemimpinan dan bimbingan, sedangkan Menuntun dengan Hati menekankan aspek panduan dan arahan,” ujarnya.
Ia menambahkan, GRSB-Solo juga memiliki tagline Mengiring dengan Hati yang menekankan aspek pendampingan dan kesetiaan. Selain itu, terdapat pula tagline Menghantar dengan Hati yang menekankan aspek pengantar dan penyertaan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
General Manager Neo Solo Grand Mall, Bambang Sunaryo, menyampaikan rasa terkejut sekaligus gembira atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai, meski baru pertama kali pusat perbelanjaan di Solo menjadi wadah edukasi autisme secara besar-besaran, kegiatan ini menunjukkan komitmen terhadap inklusivitas.
“Neo SGM bukan hanya untuk bisnis saja, tetapi juga memperhatikan edukasi. Harapan kami ke depan, bersama GRSB untuk merangkul sekolah-sekolah berkebutuhan khusus. Ini menunjukkan Neo SGM juga inklusif,” kata Bambang.
Ia juga mengajak para orang tua agar tidak merasa malu atau minder memiliki anak berkebutuhan khusus, serta mendorong masyarakat untuk lebih merangkul anak-anak tunadaksa, termasuk dari YPAC. (*ar)














Leave a Reply
View Comments