Inflasi Tarakan Januari 2026 Tercatat 2,88 Persen, Tarif Listrik dan Emas Jadi Pemicu Utama

Ilustrasi

KALTARA  – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan mencatat tingkat inflasi year on year (y-on-y) pada Januari 2026 sebesar 2,88 persen. Inflasi tersebut ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 104,98 pada Januari 2024 menjadi 108 pada Januari 2026.

Kepala BPS Kota Tarakan Umar Riyadi, S.ST., M.Si. menjelaskan bahwa inflasi y-on-y terjadi akibat kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran utama masyarakat.

“Inflasi year on year Januari 2026 dipengaruhi oleh naiknya harga pada beberapa kelompok pengeluaran, terutama perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya,” ujar Umar Riyadi. Senin (02/2/2026).

Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,60 persen, sementara inflasi year to date (y-to-d) pada Januari 2026 tercatat 2,88 persen.

Kelompok pengeluaran dengan inflasi tertinggi adalah perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencapai 13,41 persen, disusul kelompok kesehatan sebesar 11,46 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 17,60 persen. Kelompok lain yang turut mengalami inflasi yaitu makanan, minuman, dan tembakau (1,26 persen), pendidikan (1,02 persen), rekreasi, olahraga, dan budaya (3,11 persen), serta penyediaan makanan dan minuman/restoran (2,00 persen).

Sementara itu, beberapa kelompok pengeluaran mengalami deflasi, di antaranya transportasi (-1,13 persen), pakaian dan alas kaki (-0,43 persen), perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga (-0,48 persen), serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (-0,21 persen).

Umar Riyadi menambahkan, komoditas yang dominan menyumbang inflasi y-on-y antara lain tarif listrik, emas perhiasan, tarif rumah sakit, beras, ikan layang, ikan bandeng, minyak goreng, serta sewa dan kontrak rumah.

“Tarif listrik dan emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan di Kota Tarakan,” jelasnya.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi, seperti angkutan udara, cabai rawit, tomat, daging ayam ras, serta sejumlah sayuran segar.

Berdasarkan andil kelompok pengeluaran, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan kontribusi inflasi terbesar sebesar 2,00 persen, diikuti perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,54 persen, serta makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,37 persen. (*)