Di Balik Pintu yang Terkunci: Kisah Remaja Nunukan yang Tenggelam dalam Dunia Game

Dari Kamar Terkunci ke Rehabilitasi Medis di Tarakan. (ist)

NUNUKAN – Pintu itu tertutup rapat. Tak ada suara, tak ada jawaban. Hanya kesunyian yang menyelimuti sebuah kamar di sudut rumah sederhana di Kabupaten Nunukan.

Di balik pintu itulah, seorang remaja berinisial AS mengurung dirinya dari dunia luar.

Hari-hari berlalu tanpa kepastian. Ia tidak keluar kamar. Tidak makan. Tidak mandi. Bahkan, ia menolak berbicara dengan siapa pun, termasuk keluarganya sendiri.

Kekhawatiran sang ibu akhirnya berubah menjadi keputusan. Laporan pun disampaikan kepada Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Nunukan.

Ketika petugas datang, pintu kamar masih terkunci dari dalam. Tidak ada respons. Situasi itu memaksa petugas bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mengambil langkah yang tak mudah: membuka paksa pintu tersebut.

Apa yang mereka temukan di dalamnya menjadi gambaran sunyi tentang sebuah kejatuhan yang perlahan.

Kamar itu dipenuhi sampah. Abu rokok dan bungkus rokok berserakan. Udara pengap menyelimuti ruang sempit itu. Di tengahnya, sebuah laptop menyala—menjadi satu-satunya “jendela” yang tersisa bagi AS.

Ia duduk di sana, dengan tatapan kosong.

“Dia terlihat emosional, seperti kehilangan arah,” ujar Ibrani, Pekerja Sosial Dinsos P3A Nunukan, mengingat momen tersebut.

Tak ada luka yang tampak secara kasat mata. Namun, sesuatu yang lebih dalam telah terjadi.

Dari cerita keluarga, perubahan AS tidak datang tiba-tiba. Perceraian orang tua menjadi salah satu titik yang mengubah hidupnya. Perhatian yang berkurang, pengawasan yang longgar, perlahan membuka ruang bagi pelarian.

Game online menjadi tempatnya bersembunyi.

Awalnya mungkin hanya hiburan. Namun, waktu yang terus berjalan tanpa batas menjadikannya kebiasaan. Kebiasaan itu berubah menjadi ketergantungan. Hingga akhirnya, ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Makan terabaikan. Kebersihan diri ditinggalkan. Interaksi sosial terputus.

AS tidak hanya mengurung diri di kamar—ia menjauh dari kehidupan.

Setelah melalui penanganan awal, AS akhirnya dibawa ke Poli Jiwa RSUD Nunukan. Dari sana, dokter merekomendasikan rehabilitasi medis sebagai langkah pemulihan yang lebih komprehensif.

Pada Jumat (27/6/2026), ia diberangkatkan ke Tarakan dengan pendampingan petugas.

Perjalanan itu menjadi awal dari sesuatu yang baru.

Di tengah proses yang tidak mudah, tanda-tanda kecil mulai terlihat. AS tampak lebih tenang. Ia mulai merespons percakapan. Meski masih menyimpan jarak, terutama dengan ibunya, ada harapan yang perlahan tumbuh.

Namun, pemulihan bukan hanya soal pengobatan.

Pendampingan psikologis disiapkan. Keluarga dilibatkan. Program rehabilitasi sosial akan dirancang sesuai kebutuhannya. Semua pihak berupaya agar AS tidak hanya pulih, tetapi juga mampu kembali menjalani hidupnya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa luka pada anak tidak selalu terlihat.

Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, game online bisa menjadi ruang hiburan, tetapi juga dapat berubah menjadi pelarian yang berbahaya jika tanpa batas dan pengawasan.

“Anak membutuhkan perhatian, komunikasi, dan kehadiran orang tua,” kata Ibrani. “Tanpa itu, mereka bisa mencari dunia lain untuk bertahan.”

Di Nunukan, kisah AS kini menjadi cermin. Bahwa di balik pintu yang tertutup, bisa saja ada cerita yang tak pernah terdengar—tentang kesepian, kehilangan, dan harapan untuk kembali. (*ma)