TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2026 mengalami penurunan sebesar 0,34 persen menjadi 116,68. Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan inflasi terhadap daya beli petani di wilayah perdesaan.
Kepala BPS Provinsi Kalimantan Utara, Dr. Mustaqim SST., SE., M.Si., menjelaskan bahwa penurunan NTP disebabkan oleh turunnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,25 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru meningkat 0,09 persen.
“Ketika harga hasil pertanian yang diterima petani turun dan biaya konsumsi serta produksi naik, maka daya beli petani otomatis tertekan,” ujar Mustaqim dalam rilis resmi BPS, Senin (2/2/2026).
Ia menyebutkan, penurunan NTP terjadi pada subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat. Penurunan terdalam terjadi pada subsektor perkebunan rakyat yang turun hingga 1,32 persen.
Di sisi lain, subsektor peternakan dan perikanan masih menunjukkan kinerja positif. NTP peternakan naik 0,22 persen, sementara NTP nelayan dan pembudidaya ikan meningkat 0,07 persen.
BPS juga mencatat adanya kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,11 persen pada Januari 2026, dengan kenaikan tertinggi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Menurut Mustaqim, kondisi ini mencerminkan inflasi perdesaan yang masih perlu diwaspadai, khususnya terhadap komoditas konsumsi petani. Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat pengendalian harga dan biaya produksi pertanian.(*)














Leave a Reply
View Comments