Singal Kaltara: Dari Kerajinan Pandemi Menjadi Penggerak Ekonomi dan Identitas Daerah

Mulyadi Abdilah (penulis) Saat Menggunakan Singal Produksi MARCO Handmade.

TARAKAN — Selembar kain yang dilipat, dibentuk, kemudian dililitkan di kepala. Di tangan Agatha Chelsia Fange, pemilik UMKM MARCO Handmade di Jalan Imam Bonjol/ Markoni, Kecamatan Tarakan Tengah, kain itu berubah menjadi singal—ikat kepala khas Kalimantan Utara yang kini bukan hanya menjadi bagian dari identitas daerah, tetapi juga sumber penghidupan bagi sejumlah orang.

Perjalanan itu bermula pada 2020, ketika pandemi COVID-19 membuat aktivitas ekonomi masyarakat ikut terpukul. Saat itu, Chelsia yang sebelumnya memproduksi alat pelindung diri (APD) harus mencari peluang baru ketika permintaan terhadap produk tersebut mulai menurun.

Ia kemudian berpikir, kerajinan apa yang bisa dibuat sekaligus mengangkat ciri khas Tarakan dan Kalimantan Utara.

“Awalnya di masa pandemi, sebelumnya kami membuat APD. Ketika permintaan APD menurun, kami berpikir kerajinan apa yang menjadi khas Tarakan selain makanan. Akhirnya kami memilih membuat ikat kepala untuk laki-laki,” ujar Chelsia.

Pilihan itu ternyata menjadi titik balik.

Singal dibuat dari kain polos maupun kain batik dengan beragam motif dan warna yang merepresentasikan kekayaan budaya Kalimantan Utara, mulai dari motif Tidung, Dayak hingga Bulungan. Agar lebih praktis, Chelsia mengembangkan singal siap pakai sehingga masyarakat tidak perlu lagi melipat dan membentuk kain secara manual.

Pada awalnya, penjualan masih sangat kecil. Hanya sekitar lima hingga sepuluh singal yang terjual. Namun perlahan permintaan meningkat, terutama ketika penggunaan singal mulai diberlakukan di lingkungan pemerintahan.

Pada masa awal pemberlakuan penggunaan singal bagi ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara serta pemerintah kabupaten dan kota, produksi MARCO Handmade bahkan mampu mencapai sekitar 700 potong per bulan. Omzetnya pun sempat menyentuh Rp80 juta per bulan.

“Alhamdulillah sampai sekarang produksi terus berjalan. Selain memenuhi pesanan, kami juga membuat stok untuk di galeri UMKM. Walaupun sekarang produksi sudah menurun dari awalnya yang mencapai 700 pcs, rata-rata setiap bulan minimal 250 pcs,” ungkap Chelsia.

Chelsia (kiri) Saat Melayani Pembeli Singal di Gerai UMKM Miliknya.

Menembus Ruang Pameran

Produksi yang berjalan tidak hanya ditujukan untuk memenuhi pesanan konsumen. Singal buatan MARCO Handmade selain dipasarkan di gerai-gerai UMKM, melalui media sosial, juga dibawa ke berbagai pameran dan kegiatan promosi UMKM.

Chelsia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas. Hasil produksinya telah mengikuti berbagai pameran UMKM yang digelar pemerintah, BUMN maupun Bank Indonesia.

Bagi Chelsia, pameran menjadi ruang penting untuk mempertemukan produk lokal dengan calon konsumen dari berbagai kalangan.

“Kalau ada pameran, kami selalu berusaha ikut. Produk kami bisa dikenal lebih luas, bukan hanya masyarakat Tarakan, tetapi juga tamu dari luar daerah. Pameran yang digelar pemerintah, BUMN maupun Bank Indonesia sangat membantu kami memperkenalkan produk,” katanya.

Dari ruang-ruang pameran tersebut, singal tidak sekadar menjadi barang yang dipajang dan dijual. Produk itu sekaligus membawa cerita mengenai budaya Kalimantan Utara kepada masyarakat yang lebih luas.

Ketika Usaha Kecil Menghidupi Orang Lain

Pertumbuhan MARCO Handmade kemudian membawa dampak yang lebih besar bagi Chelsia. Usaha yang awalnya dijalankan untuk mencari peluang di tengah pandemi, kini ikut membuka lapangan pekerjaan.

Saat ini terdapat tiga karyawan tetap yang membantu proses produksi. Selain itu, Chelsia juga kerap menerima pelajar yang menjalani program magang.

Salah satu karyawan bernama Nani yang bergabung sejak 2023 mengaku pekerjaan tersebut memberikan arti penting bagi keluarganya.

“Sejak bergabung tahun 2023, pekerjaan ini sangat membantu untuk menambah kebutuhan ekonomi. Selain mendapatkan penghasilan, saya juga bisa belajar membuat singal dan keterampilan lainnya,” tuturnya.

Ia mengatakan, penghasilan dari pekerjaan tersebut setidaknya membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Alhamdulillah, dari pekerjaan ini ekonomi saya lumayan terbantu, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan pekerjaan ini, setidaknya kebutuhan rumah tangga masih bisa terpenuhi,” ujarnya, disela –sela menjahit Singal, Rabu (26/08/2026)

Cerita pemberdayaan itu semakin kuat karena MARCO Handmade juga memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas.

Diana, salah seorang karyawan yang merupakan penyandang tunawicara, ikut terlibat dalam proses produksi. Keterbatasan dalam berbicara tidak menjadi penghalang baginya untuk bekerja, belajar dan menghasilkan karya.

Di tempat itu, kemampuan untuk berkarya menjadi hal yang lebih penting daripada keterbatasan komunikasi.

Diana, salah seorang karyawan yang merupakan penyandang tunawicara, ikut terlibat dalam proses produksi

Bagi Chelsia, keberadaan para pekerja tersebut menjadi bagian dari perjalanan usahanya. Singal yang awalnya dibuat sebagai upaya bertahan di tengah pandemi, kini ikut membantu memenuhi kebutuhan ekonomi beberapa keluarga.

Dari Ikat Kepala Menjadi Identitas

Harga singal yang diproduksi MARCO Handmade harganya berkisar Rp300 ribu per pcs.

Namun nilai singal tidak hanya ditentukan oleh harga. Ikat kepala tersebut perlahan menjadi bagian dari identitas Kalimantan Utara.

Penggunaan singal di lingkungan pemerintahan menjadi salah satu faktor yang mendorong popularitas produk tersebut. Di Kota Tarakan, penggunaan singal bagi ASN telah diberlakukan sejak Juli 2021.

Dari lingkungan pemerintahan, penggunaan singal kemudian semakin meluas. Pegawai BUMN, masyarakat umum hingga wisatawan mulai mengenakannya dalam berbagai kesempatan, baik formal maupun nonformal.

Perjalanan singal bahkan sampai ke tingkat nasional. Singal khas Kalimantan Utara pernah menjadi buah tangan yang diberikan Gubernur Kalimantan Utara kepada Presiden RI Joko Widodo saat melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Utara.

Saat turun dari Pesawat, Presiden Jokowi diberikan ikat kepala khas daerah Tarakan (Singal) oleh Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang 2021

Momen tersebut ikut memberikan dampak terhadap popularitas singal. Produk yang sebelumnya lebih banyak dikenal di lingkungan masyarakat lokal mulai dilihat sebagai salah satu cendera mata khas Kalimantan Utara.

Bagi Gubernur Kalimantan Utara, singal juga menjadi aksesori yang kerap digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Penggunaan tersebut ikut memperkuat pesan bahwa produk budaya lokal tidak harus menunggu acara seremonial untuk dikenakan.

Singal bisa hadir dalam keseharian.

Selembar Kain, Banyak Cerita

Perjalanan MARCO Handmade memperlihatkan bagaimana sebuah ide sederhana dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.

Pandemi yang semula menjadi masa sulit justru mendorong Chelsia menemukan peluang baru. Dari lima hingga sepuluh singal yang terjual pada awal produksi, jumlahnya pernah melonjak hingga 700 potong per bulan. Kini, meski produksi telah menyesuaikan kondisi pasar, sedikitnya 250 singal masih diproduksi setiap bulan.

Singal Produksi UMKM MARCO Handmade

Produk tersebut juga terus diperkenalkan melalui berbagai pameran UMKM yang digelar pemerintah, BUMN dan Bank Indonesia.

Di sisi lain, usaha ini menjadi tempat bekerja bagi tiga karyawan tetap, membuka ruang bagi pelajar untuk belajar melalui magang, sekaligus memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk berkarya.

Karena itu temtunya ini menjadi “Cerita Benuanta: UMKM Tumbuh, Kaltara Maju” cerita singal bukan sekadar cerita tentang kain, motif dan penjualan.

Ada cerita Chelsia yang berusaha bertahan ketika pandemi. Ada karyawan yang sejak 2023 mendapatkan tambahan penghasilan untuk keluarganya. Ada Diana yang menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Ada pula para pelajar yang mengenal dunia kerja melalui proses pembuatan kerajinan.

Dan di atas semua itu, ada identitas Kalimantan Utara yang terus dikenalkan melalui selembar kain.

Dari tangan-tangan kecil di sebuah UMKM di Jalan Markoni, singal kini berjalan lebih jauh—dari galeri, pameran UMKM, lingkungan pemerintahan, hingga menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Di balik setiap lilitan singal, ada budaya yang dijaga, ekonomi yang digerakkan dan kehidupan yang ikut ditopang.

Penulis : Mulyadi Abdilah