Mangkoenagoro X Gaungkan Budaya sebagai Infrastruktur Ekonomi Masa Depan Asia di World Economic Forum 2026

[FOTO UTAMA: KGPAA Mangkoenagoro X bersama Menteri Pengembangan Digital, Inovasi dan Komunikasi Mongolia Nomin Chinbat dalam sesi hub “Catching Asia’s Beat” di World Economic Forum Annual Meeting of the New Champions 2026 (WEFAMNC) di Dalian, Cina, 23-25 Juni 2026. Sesi dimoderatori oleh Pranjal Sharma, Contributing Editor BusinessWold.] Foto: Dokumentasi Resmi KGPAA Mangkoenagoro X

SOLO – Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPA) Mangkoenagoro X tampil sebagai pembicara dalam sesi bertajuk “Catching Asia’s Beat” pada World Economic Forum (WEF) Annual Meeting of the New Champions 2026 yang berlangsung di Dalian, China, Rabu (24/6/2026). Dalam forum bergengsi yang mempertemukan para pemimpin dunia, pelaku industri, hingga inovator global itu, Mangkoenagoro X menegaskan bahwa warisan budaya bukan sekadar objek pelestarian, melainkan infrastruktur ekonomi yang mampu menjadi keunggulan kompetitif Asia di masa depan.

Dalam sesi tersebut, Mangkoenagoro X berdialog dengan Menteri Pengembangan Digital, Inovasi, dan Komunikasi Mongolia, Nomin Chinbat. Keduanya membahas bagaimana warisan peradaban dapat menjadi fondasi pembangunan bangsa modern sekaligus memperkuat daya saing ekonomi.

Forum yang dikenal sebagai “Summer Davos” ini menjadi wadah strategis untuk membahas arah pertumbuhan ekonomi global, khususnya di kawasan Asia dan negara-negara berkembang. Kehadiran Mangkoenagoro X sebagai pembicara dinilai mencerminkan pengakuan internasional terhadap pentingnya institusi budaya dalam pembangunan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Mangkoenagoro X menyampaikan bahwa Asia tengah memasuki era persaingan baru, yakni kompetisi yang tidak lagi hanya bertumpu pada skala ekonomi dan efisiensi, tetapi juga pada nilai, identitas, dan karakter budaya yang dimiliki masing-masing bangsa.

Ia menguatkan pandangannya dengan data mengenai Indonesia. Pada 2025, sektor ekonomi kreatif tercatat menyerap hampir 27,4 juta tenaga kerja atau sekitar 18,7 persen dari total angkatan kerja nasional. Selain itu, sektor pariwisata diproyeksikan mampu menyumbang lebih dari Rp1.800 triliun setiap tahun dalam satu dekade mendatang dan menopang lebih dari 12 juta lapangan pekerjaan. Indonesia juga memiliki 13 Warisan Budaya Takbenda yang telah diakui UNESCO.

Namun, menurut Mangkoenagoro X, nilai terbesar budaya tidak hanya terletak pada kontribusi ekonomi secara langsung.

“Nilai ekonomi terbesar dari budaya bukanlah pendapatan pariwisata. Nilai terbesar itu adalah kepercayaan diri. Karena budaya memberi manusia pemahaman tentang siapa diri mereka. Dan ketika seseorang tahu siapa dirinya, ia menjadi lebih berani membayangkan dirinya bisa menjadi siapa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa identitas budaya akan melahirkan kepercayaan diri, yang kemudian mendorong ambisi, menarik investasi, hingga menciptakan kemakmuran. Masyarakat yang percaya terhadap identitasnya, menurutnya, lebih siap berinovasi dan menghasilkan produk maupun institusi yang mampu bersaing di tingkat global.

Dialog dengan Menteri Mongolia, Nomin Chinbat, turut memperkaya diskusi mengenai bagaimana bangsa-bangsa Asia dapat menjadikan warisan budaya sebagai modal pembangunan. Mangkoenagoro X menilai Mongolia sebagai contoh negara yang berhasil memadukan tradisi nomadik berusia ribuan tahun dengan pembangunan modern tanpa kehilangan jati diri.

Ia juga menyinggung keberhasilan Korea Selatan dan Jepang yang mampu mengubah identitas budaya menjadi kekuatan ekonomi sekaligus meningkatkan pengaruh global melalui berbagai sektor kreatif.

Sebagai contoh nyata, Mangkoenagoro X memperkenalkan Pura Mangkunegaran di Solo yang kini berusia 269 tahun sebagai model pengelolaan budaya yang memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.

Sepanjang 2024, Pura Mangkunegaran mencatat lebih dari 120 ribu kunjungan wisatawan. Berbagai agenda budaya yang diselenggarakan juga menghasilkan efek berganda bagi perekonomian Kota Solo. Upacara Pergantian Tahun Jawa Sura, misalnya, mampu menggerakkan aktivitas ekonomi lebih dari satu juta dolar Amerika Serikat hanya dalam satu malam. Sementara Mangkunegaran Run menciptakan perputaran ekonomi lebih dari 4,5 juta dolar Amerika Serikat dalam tiga hari pelaksanaan.

Menurutnya, fakta tersebut membuktikan bahwa budaya bukan sekadar warisan sejarah, tetapi mampu menjadi mesin penggerak ekonomi daerah.

“Budaya adalah infrastruktur. Bukan infrastruktur fisik, melainkan infrastruktur sosial. Budaya menciptakan kepercayaan, memperkuat identitas, membangun kohesi sosial, dan pada akhirnya mendorong ketahanan ekonomi,” tegasnya.

Menutup paparannya, Mangkoenagoro X menyampaikan bahwa di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), diferensiasi akan menjadi aset yang jauh lebih bernilai dibandingkan standardisasi.

Menurutnya, teknologi dapat ditiru, modal dapat berpindah, dan infrastruktur fisik dapat dibangun kembali. Namun, budaya, keaslian, serta rasa percaya dan memiliki tidak dapat dengan mudah direplikasi.

“Kota-kota yang menarik talenta adalah kota dengan identitas. Destinasi yang menarik wisatawan adalah destinasi yang memiliki cerita. Perekonomian yang mampu mempertahankan modal manusianya adalah perekonomian yang menawarkan makna dan rasa memiliki,” tuturnya.

Ia meyakini bahwa ekonomi paling kompetitif di masa depan bukan hanya yang mampu menciptakan kekayaan, tetapi juga membangun kepercayaan, makna, identitas, dan rasa memiliki bagi masyarakatnya.

Partisipasi Mangkunegaran dalam World Economic Forum Annual Meeting of the New Champions 2026 diharapkan semakin menegaskan bahwa warisan budaya Indonesia memiliki posisi strategis di panggung global, sekaligus menjadi inspirasi bahwa identitas bangsa merupakan modal utama dalam membangun masa depan yang berdaulat, bermartabat, dan berdaya saing.