NUNUKAN – Malam Ramadhan di Kabupaten Nunukan, Sabtu (15/3/2026), tidak hanya dipenuhi cahaya lampu jalan dan aroma masakan sahur, tetapi juga dentuman bedug yang menggema dari gang ke gang, dari jalan utama hingga alun-alun kota. Tradisi Lomba Bedug Sahur yang digelar rutin setiap tahun kembali menjadi momen yang dinanti-nanti masyarakat dari berbagai usia.
Bupati H. Irwan Sabri hadir langsung untuk melepas 19 kelompok peserta lomba dengan total sekitar 570 orang. “Alhamdulillah, lomba bedug sahur ini menjadi agenda rutin setiap tahun di bulan Ramadhan. Kegiatan ini sangat penting, pertama untuk mempererat silaturahmi warga dari berbagai wilayah di Nunukan, baik antara masyarakat maupun dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan,” ujar Bupati.
Dari titik start di Jalan Bahari, Tanah Merah, peserta menyusuri sejumlah ruas jalan utama, termasuk Jalan Yamaker, Jalan Tanjung, Jalan Pahlawan, Jalan Bhayangkara, hingga finis di Alun-Alun Kota Nunukan. Sepanjang rute, warga tumpah ruah, bersorak, bertepuk tangan, dan ikut merasakan semangat kebersamaan yang dibawa setiap dentuman bedug.
“Semoga kegiatan ini terus bisa dilakukan. Kegiatan seperti ini sangat penting karena dapat meningkatkan silaturahmi antara masyarakat dengan pemerintah, sekaligus menjaga kerukunan di Kabupaten Nunukan,” tegas Bupati Irwan Sabri.
Tidak hanya peserta yang antusias, warga dari berbagai usia berbaur di sepanjang rute. Anak-anak menabuh bedug mini, remaja ikut menyemangati peserta, sementara orang dewasa bersorak dan mengabadikan momen dengan kamera ponsel. Seorang warga, Siti Rahma, mengatakan, “Kegiatan ini membuat kami merasakan Ramadhan lebih hangat, bukan hanya untuk keluarga tapi juga untuk seluruh warga.”
Bagi generasi muda, lomba bedug sahur menjadi ajang belajar menjaga tradisi. Banyak remaja yang menekuni ritme bedug dan mengikuti pola musik yang berbeda-beda di setiap kelompok, menunjukkan kreativitas sekaligus rasa memiliki terhadap budaya lokal.
Menurut Bupati Irwan Sabri, lomba bedug sahur bukan sekadar hiburan, tetapi ruang untuk memperkuat persaudaraan, menumbuhkan rasa memiliki, dan menjaga tradisi budaya. Ia menekankan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana membangun hubungan sosial yang harmonis antara masyarakat dan pemerintah.
“Ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi serta menumbuhkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat,” ujar Bupati.
Dentuman bedug yang bergema sepanjang rute menjadi simbol kuatnya persaudaraan, mengingatkan bahwa di wilayah perbatasan sekalipun, semangat kebersamaan, toleransi, dan cinta budaya tetap hidup. Menang atau kalah bukanlah tujuan utama, yang penting adalah menjaga tradisi, mempererat silaturahmi, dan menghadirkan Ramadhan yang penuh kegembiraan.
Bupati juga mengapresiasi panitia, khususnya Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Nunukan, yang berhasil menginisiasi kegiatan ini sehingga menjadi ruang kebersamaan bagi seluruh masyarakat.
“Tradisi seperti ini mengajarkan kita tentang kebersamaan, toleransi, dan cinta terhadap budaya sendiri,” pungkas Bupati.
Malam itu, dentuman bedug bukan sekadar tanda sahur. Ia menjadi irama kebersamaan, suara persaudaraan, dan pengikat warga dari berbagai usia, latar belakang, serta profesi. Dari anak-anak yang tersenyum sambil menabuh bedug kecil, pedagang yang berhenti sejenak dari rutinitasnya, hingga warga lanjut usia yang menikmati momen nostalgia, semuanya hadir dalam satu harmoni Ramadhan yang penuh makna.
Tradisi Lomba Bedug Sahur Nunukan membuktikan bahwa budaya lokal dapat menjadi jembatan sosial, memperkuat hubungan warga dengan pemerintah, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap komunitas. Dentuman bedug malam itu tidak hanya meriah, tetapi juga sarat pesan humanis: kebersamaan adalah inti dari Ramadhan, dan tradisi adalah jembatan yang mengikat masyarakat Nunukan. (*)














Leave a Reply
View Comments