TARAKAN – Panitia Khusus (Pansus) IV DPRD Provinsi Kalimantan Utara terus mempercepat penyelesaian pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Pengembangan Perbukuan dan Budaya Literasi. Ranperda tersebut digadang-gadang menjadi payung hukum pertama di Indonesia yang secara khusus mengatur pengembangan literasi dan perbukuan melalui inisiatif DPRD.
Pembahasan dilakukan dalam Rapat Kerja Pansus IV DPRD Kaltara bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan Tim Pakar Ahli di Ruang Rapat Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Utara di Tarakan, Kamis (21/05/2026).
Anggota Pansus IV DPRD Kaltara yang juga Bunda Literasi Kabupaten Tana Tidung, Vamelia, menilai perda tersebut sangat penting sebagai dasar hukum sekaligus penguat gerakan literasi di daerah.
“Sebagai penggiat literasi, ini adalah payung kami. Mulai dari pendanaan, pendistribusian buku hingga penguatan taman bacaan masyarakat nantinya memiliki dasar yang jelas,” ujarnya.
Menurut Vamelia, selama ini para penggiat literasi, taman bacaan masyarakat (TBM), hingga duta baca bergerak tanpa payung hukum yang kuat. Karena itu, keberadaan perda dinilai menjadi langkah besar bagi pengembangan budaya membaca di Kalimantan Utara.
Ia mengungkapkan, perda tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan program literasi hingga ke kabupaten dan kota di Kaltara.
“Harapan saya perda dari provinsi ini nantinya menjadi turunan ke daerah-daerah lain. Apalagi saat ini daerah yang cukup aktif menjalankan gerakan literasi ada di Kabupaten Tana Tidung, Malinau dan Tarakan,” katanya.
Vamelia yang dikenal sebagai pendiri puluhan Taman Bacaan Masyarakat di Kabupaten Tana Tidung menyebut, regulasi tersebut juga akan memperkuat ruang gerak komunitas literasi dalam mengembangkan program-program membaca di tengah masyarakat.
“Saya mendirikan 32 Taman Bacaan Masyarakat di Kabupaten Tana Tidung. Dengan adanya perda ini tentu sangat membantu kami dalam pengembangan budaya literasi,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga mendukung adanya penghargaan atau reward bagi pegiat dan penulis daerah sebagai bentuk motivasi dalam meningkatkan budaya baca masyarakat.
Meski demikian, ia mengingatkan seluruh program tetap harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah di tengah kondisi efisiensi anggaran saat ini.
“Yang penting semangat literasi tetap berjalan. Selama ini kami di Tana Tidung juga rutin memberikan penghargaan kepada taman bacaan masyarakat yang berprestasi,” pungkasnya.(*ma)














Leave a Reply
View Comments