TARAKAN – Pelaksanaan Reses Masa Persidangan II Tahun 2026, Selasa (17/02/2026), di Perumahan Intraca, RT 10, Kelurahan Juata Permai, Kecamatan Tarakan Utara, satu isu masih hangat diperbincangkan. Bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan harapan besar agar rute kapal PELNI langsung Tarakan–Surabaya kembali dibuka.
Dalam wawancara bersama media, anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara dapil Tarakan yang juga Ketua DPW Partai NasDem Kalimantan Utara, Supa’ad Hadianto, menyebut aspirasi tersebut sebagai salah satu usulan paling kuat yang ia tangkap dari masyarakat.
“Salah satu usulan menarik yang kami tangkap adalah pembukaan kembali rute kapal dari Tarakan ke Surabaya secara langsung. Selama ini rute tersebut sudah cukup lama tidak tersedia,” ujarnya.
Menurut Supa’ad, hilangnya rute langsung tersebut berdampak luas terhadap mobilitas masyarakat. Banyak warga Tarakan yang memiliki kepentingan pendidikan, perdagangan, pekerjaan, hingga urusan keluarga di Surabaya dan kota-kota lain di Pulau Jawa. Tanpa jalur laut langsung, perjalanan menjadi lebih panjang, mahal, dan melelahkan.
Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, Gubernur Kalimantan Utara telah lebih dahulu mengusulkan pembukaan rute tersebut kepada pemerintah pusat melalui BUMN terkait. Namun ia menegaskan, DPRD juga memiliki tanggung jawab politik untuk memperkuat dorongan tersebut.
“Informasi yang saya peroleh, Pak Gubernur sudah mengusulkan ke pemerintah pusat melalui BUMN terkait. Tentu kami di DPRD akan mendukung penuh,” tegasnya.
Sebagai Ketua DPW Partai NasDem Kaltara, Supa’ad menyatakan akan menggunakan posisi dan fungsi politiknya untuk memperjuangkan aspirasi ini hingga ke tingkat pusat.
“Saya akan menggunakan posisi dan fungsi saya di fraksi untuk memperjuangkan pembukaan kembali rute kapal Tarakan–Surabaya dan sebaliknya. Ini murni kewenangan pemerintah pusat, sehingga perlu dorongan serius,” katanya.
Ia menilai, transportasi saat ini bukan lagi kebutuhan sekunder, melainkan sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat, terlebih di wilayah perbatasan seperti Tarakan. Akses transportasi yang terjangkau akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan warga.
“Bagi masyarakat menengah ke atas, mungkin perjalanan bisa ditempuh dengan pesawat. Tapi bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah, kapal laut adalah alternatif paling terjangkau,” ujarnya.
Supa’ad menambahkan, keberadaan rute kapal langsung tidak hanya membantu masyarakat perorangan, tetapi juga pelaku usaha kecil dan menengah yang mengandalkan distribusi barang ke luar daerah. Ongkos logistik yang lebih efisien akan membuka peluang usaha yang lebih luas.
Di tengah keterbatasan pilihan transportasi dan fluktuasi harga tiket pesawat, kapal laut tetap menjadi tumpuan harapan banyak keluarga. Ia pun memastikan perjuangan tersebut tidak akan berhenti pada wacana semata.
“Karena itu, perjuangan ini akan terus kami dorong hingga ke tingkat pusat. Ini bukan hanya soal transportasi, tapi soal akses dan keadilan bagi masyarakat,” pungkasnya.
Dari halaman sederhana di Intraca, aspirasi itu kembali disuarakan—agar jarak antara Tarakan dan Surabaya tidak lagi terasa sejauh hari ini, dan kapal yang pernah menjadi penghubung utama itu dapat kembali berlayar membawa harapan warga Kalimantan Utara.(*)














Leave a Reply
View Comments