Setengah Abad Bertahan, Kue Keranjang Tradisional Tarakan Kebanjiran Pesanan Jelang Imlek

aktivitas pembuatan kue keranjang di Tarakan tampak lebih sibuk dari biasanya.

TARAKAN – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, permintaan kue keranjang di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, meningkat tajam. Salah satu yang menjadi buruan masyarakat adalah kue keranjang produksi rumahan milik keluarga Joanie di Jalan Slamet Riyadi.

Usaha yang telah berjalan lebih dari 50 tahun ini tetap mempertahankan cita rasa khas yang diwariskan secara turun-temurun. Memasuki musim Imlek, produksi meningkat signifikan untuk memenuhi pesanan pelanggan yang datang dari berbagai daerah.

Tak hanya warga Tarakan dan Kalimantan Utara, pembeli juga berasal dari luar daerah seperti Surabaya dan Jakarta. Sebagian pelanggan bahkan memesan jauh hari sebelum perayaan untuk memastikan ketersediaan.

Keistimewaan kue keranjang ini terletak pada proses pembuatannya yang masih menggunakan metode tradisional. Bahan yang digunakan pun sederhana, yakni gula pasir dan tepung beras ketan pilihan tanpa campuran bahan pengawet.

Adonan diaduk secara manual hingga merata sebelum dikukus menggunakan tungku berbahan bakar kayu selama kurang lebih 12 jam. Proses inilah yang menghasilkan tekstur kenyal dan rasa manis yang khas.

Pemilik usaha, Joanie (86), mengatakan dirinya tetap mempertahankan resep asli keluarga meski zaman telah berubah. Menurutnya, kualitas rasa adalah alasan utama pelanggan tetap setia.

“Kami tidak pernah mengubah resep dari orang tua. Tetap pakai cara lama, aduk manual dan kukus pakai kayu bakar supaya rasanya tetap sama seperti dulu,” ujar Joanie saat ditemui di lokasi produksi.

Kue keranjang khas Tarakan ini dijual dengan harga mulai Rp25 ribu hingga Rp120 ribu tergantung ukuran. Setiap tahun menjelang Imlek, usaha legendaris ini selalu merasakan lonjakan permintaan yang membawa berkah tersendiri bagi keluarga Joanie. (*)