Halal Bihalal di Keraton Solo, Fadli Zon Tegaskan Status Cagar Budaya Nasional

Halal Bihalal di Keraton Solo

SOLO – Momentum Halal Bihalal di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menjadi ajang penegasan pentingnya pelestarian warisan budaya. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa keraton tersebut merupakan cagar budaya peringkat nasional yang wajib dijaga bersama.

Kunjungan Menteri Kebudayaan diawali dengan meninjau kawasan Pagelaran dan Sitihinggil Utara, sebelum melanjutkan agenda ke museum keraton yang sebagian telah direvitalisasi. Kehadirannya disambut oleh GKR Wandansari dan KGPH Hangabehi, yang kemudian mengantar rombongan menuju Sasana Handrawina untuk bertemu Panembahan Agung Tedjowulan.

Suasana keraton tampak semarak dengan kehadiran pejabat daerah, keluarga besar keraton, abdi dalem, serta masyarakat. Bahkan wisatawan yang tengah berkunjung turut menyaksikan langsung tradisi Halal Bihalal yang berlangsung hangat dan penuh kebersamaan.

Dalam sambutannya, Fadli Zon menegaskan bahwa revitalisasi Keraton Surakarta akan terus dilanjutkan setelah tahap sebelumnya mencakup Panggung Sanggabuwana dan museum.

“Keraton Surakarta adalah cagar budaya peringkat nasional. Siapa pun yang merusak atau menghalangi upaya pelestarian dan pengembangannya dapat dikenai sanksi sesuai undang-undang,” tegasnya.

Usai acara utama dan ramah tamah, rombongan melanjutkan peninjauan ke kawasan Keraton Kilen yang menjadi prioritas revitalisasi tahap berikutnya. Peninjauan dilakukan bersama jajaran keraton serta Kepala Badan Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Jawa Tengah.

Sementara itu, Panembahan Agung Tedjowulan dalam pesannya mengajak seluruh elemen keraton untuk menjadikan momentum Halal Bihalal sebagai ajang memperkuat persatuan.

“Utamakan kepentingan keraton di atas kepentingan pribadi maupun golongan,” pesannya.

Juru bicara keraton, Candra Malik Pakoenegoro, menambahkan bahwa kegiatan tersebut dihadiri keluarga besar trah Kasunanan Surakarta, mulai dari keturunan Paku Buwono IV hingga XIII.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga simbol komitmen bersama dalam menjaga kelestarian budaya dan memperkuat identitas bangsa melalui warisan sejarah yang terus hidup. (*is)