TANJUNG SELOR – Ramadan selalu menghadirkan cerita-cerita kecil yang sarat makna. Salah satunya datang dari momen buka puasa bersama Gubernur Kalimantan Utara, Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H., M.Hum., bersama insan pers di Cendana Resto, Rabu (18/3/2026).
Di tengah suasana hangat penuh kebersamaan, acara yang awalnya berlangsung seperti bukber pada umumnya itu berubah menjadi refleksi sederhana tentang makna kesetaraan.
Seusai berbuka, para tamu bersiap menunaikan shalat berjamaah. Barisan pun segera terisi. Dalam situasi yang berlangsung cepat itu, tak banyak yang menyadari bahwa Gubernur berada di shaf paling belakang.
Bukan karena disengaja, bukan pula karena ingin berbeda. Ia hanya datang sedikit lebih lambat.
Momen itu sempat terekam kamera dan menjadi bahan obrolan ringan. Namun, dari candaan itulah muncul jawaban yang justru mengandung pesan mendalam.
“Karena saya datang terakhir,” jawabnya singkat, tanpa berusaha memberi kesan lebih.
Bagi sebagian orang, posisi mungkin penting. Tapi bagi Gubernur, dalam urusan ibadah, semua itu menjadi tidak relevan.
Ia menegaskan bahwa di hadapan Tuhan, tidak ada perbedaan antara pemimpin dan yang dipimpin, antara pejabat dan masyarakat biasa.
“Tidak ada urusan jabatan di dalam shalat. Semua sama,” ucapnya.
Ia bahkan menyampaikan bahwa aturan dalam berjamaah berlaku untuk siapa pun tanpa pengecualian. Siapa yang datang terakhir, maka berdiri di belakang.
Pernyataan itu terasa sederhana, namun memiliki makna yang kuat—bahwa disiplin dan ketundukan pada aturan adalah bagian dari nilai yang harus dijunjung bersama.
Lebih dari itu, ia juga menyinggung soal kepemimpinan dalam konteks ibadah. Dalam shalat berjamaah, imam adalah pemimpin yang harus diikuti, tanpa melihat latar belakangnya.
“Kalau imamnya staf, saya tetap ikut. Di situ dia pemimpin,” katanya.
Kalimat itu menjadi penegasan bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu soal posisi struktural, tetapi juga tentang menghargai peran dalam konteks yang tepat.
Menurutnya, inti dari ibadah bukanlah tentang berada di barisan depan, melainkan bagaimana hati hadir sepenuhnya.
“Yang penting itu niat dan kekhusyukan,” ujarnya.
Malam itu, tanpa panggung besar dan tanpa rencana, sebuah pelajaran lahir dari hal sederhana—tentang kerendahan hati, tentang kesetaraan, dan tentang makna menjadi manusia di hadapan Sang Pencipta.
Karena sejatinya, di antara barisan depan dan belakang, yang membedakan bukanlah posisi, melainkan ketulusan.(*)














Leave a Reply
View Comments