Lombok Timur — Momen Lebaran di Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, tak hanya diisi dengan saling bermaafan, tetapi juga tradisi turun-temurun yang dikenal dengan “Tyu”. Tradisi balap kuda yang digelar sehari setelah Idul Fitri ini menjadi magnet bagi ratusan warga, baik dari dalam desa maupun para perantau yang pulang kampung.
Di tengah gema takbir yang masih terdengar dari masjid, suasana berubah riuh oleh sorak penonton yang menyaksikan para joki memacu kuda mereka di jalan desa. Tradisi ini telah lama menjadi ajang silaturahmi sekaligus hiburan rakyat.
Namun, kebersamaan yang tercipta dalam tradisi tersebut kali ini diwarnai insiden yang mengundang keprihatinan. Berdasarkan berbagai unggahan di media sosial, sedikitnya tiga penunggang kuda terjatuh saat balapan berlangsung. Mereka terpental ke badan jalan setelah kehilangan kendali di lintasan aspal yang dipadati warga.
Salah satu video yang beredar luas memperlihatkan seorang joki terjatuh dan tak sadarkan diri di tengah lintasan. Detik-detik menegangkan terjadi saat tubuh korban nyaris terinjak kuda lain yang melaju di belakangnya. Warga yang berada di lokasi dengan sigap memberikan pertolongan dan mengevakuasi korban ke pinggir jalan sebelum akhirnya dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Meski bagi sebagian warga kejadian seperti ini dianggap sebagai risiko dalam tradisi, reaksi publik di media sosial menunjukkan hal berbeda. Banyak yang menilai kegiatan tersebut terlalu berbahaya karena digelar di jalan umum tanpa pengamanan memadai.
Kekhawatiran pun muncul, terutama terkait keselamatan joki, penonton, hingga pengguna jalan lain yang melintas. Beberapa warganet bahkan mendesak agar kegiatan serupa ditata ulang atau dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Netizen mengingatkan bahwa esensi tradisi Tyu adalah mempererat silaturahmi, bukan mempertaruhkan keselamatan. praktik balap di jalan raya tanpa standar keamanan bukanlah bentuk tradisi yang seharusnya dipertahankan.
Di balik insiden tersebut, tradisi Tyu tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat. Namun ke depan, diperlukan perhatian serius dari semua pihak agar tradisi ini tetap hidup tanpa mengorbankan keselamatan.
Lebaran seharusnya menjadi momen penuh kebahagiaan. Karena itu, menjaga tradisi tetap berjalan selaras dengan keselamatan menjadi tanggung jawab bersama.(**)
Video:














Leave a Reply
View Comments