TARAKAN – Dentuman tambur dan lenggak-lenggok lincah barongsai memecah suasana reses Anggota DPRD Kalimantan Utara, Supa’ad Hadianto, pada Masa Persidangan II Tahun 2026. Di sudut Cafe Pondles, Kelurahan Karang Anyar, Rabu (18/02/26), puluhan warga tampak tersenyum menyaksikan pertunjukan yang menghadirkan nuansa hangat Tahun Baru Imlek.
Atraksi barongsai itu bukan sekadar hiburan. Bagi Supa’ad, momen tersebut adalah simbol kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat Tarakan. Ia sengaja menghadirkan kesenian tradisional tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada warga Tionghoa yang merayakan Imlek 2026.
“Untuk saudara-saudara kita yang merayakan Imlek, saya ucapkan Selamat Tahun Baru Imlek 2026,” ucapnya disambut tepuk tangan warga.
Suasana reses pun terasa lebih cair. Warga dari berbagai latar belakang duduk berdampingan, berbincang santai sebelum menyampaikan aspirasi mereka. Supaad menegaskan, keberagaman suku, agama, dan budaya adalah kekuatan yang harus dirawat bersama.
Menurutnya, barongsai kini telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Tak lagi identik dengan satu etnis, kesenian ini bahkan telah dipertandingkan dalam berbagai ajang hingga tingkat internasional.
Ia juga memberikan apresiasi kepada kelompok barongsai di Tarakan yang dinilai aktif berprestasi dan kerap mewakili daerah dalam sejumlah kegiatan. Baginya, kebudayaan mampu menjadi jembatan yang mempererat hubungan antarmasyarakat.
Supa’ad menilai, reses bukan hanya forum menyerap aspirasi, tetapi juga ruang membangun empati dan memperkuat toleransi.
“Kita ini satu bangsa. Perbedaan suku dan agama harus menjadi perekat, bukan pemisah,” tegasnya.
Di tengah dentuman tambur dan tawa warga, pesan tentang persatuan itu pun terasa lebih membumi—mengalir hangat sebagaimana semangat Imlek yang dirayakan bersama.(*)














Leave a Reply
View Comments